Jumat, 17 Januari 2014

Info Sehat : Lalat ( The Fly )

Kemarin pas masuk kamar mandi ada yang bergerak-gerak di lantai, ternyata ada 2 ekor belatung hiiii merinding ngeliatnya. Selidik punya selidik ternyata ada tumpukan sampah makanan yang dibelatungin di dalam pipa saluran air jadinya dibelatungin deh. Karena itu saya cari tahu tentang lalat lewat mbah Google ni kumpulannya, maaf bisanya baru copas wkwkwkwk.

Lalat

Sub-Ordo
Cyclorrapha

Ordo
Dypthera

Penampilan
Lalat umumnya mempunyai sepasang sayap asli serta sepasang sayap kecil yang digunakan untuk menjaga stabilitas saat terbang. Lalat berantena pendek, dan sangat mengandalkan penglihatan untuk bertahan hidup. Mata majemuk lalat terdiri atas ribuan lensa dan sangat peka terhadap gerakan. Beberapa jenis lalat memiliki penglihatan tiga dimensi yang akurat. Sedangkan jenis lalat lain, misalnya Ormia ochracea, memiliki organ pendengaran yang sangat canggih.

Hal Lain Tentang Lalat
  • Tergantung pada spesies, harapan hidup lalat adalah delapan hari untuk dua bulan, atau dalam beberapa kasus, sampai satu tahun.  
  • Sepasang lalat dapat menghasilkan lebih dari 1 juta keturunan dalam waktu enam sampai delapan minggu.
  • Sebanyak 33 juta mikroorganisme dapat berkembang di dalam usus lalat tunggal, sementara kelompok-setengah miliar lebih atas tubuh dan kaki.
  • Untuk satu lalat yang terlihat terbang, diperkirakan 19 lebih tersembunyi dari pandangan. Ini berarti manusia tidak dapat melihat keseluruhan lalat hadir di sebuah infestasi.
Penyebar Penyakit
Lalat yang hidup di antara manusia, sebagian jenis dapat menyebabkan penyakit yang serius. Lalat penyebar penyakit yang sangat serius karena setiap lalat hinggap di suatu tempat, kurang lebih 125.000 kuman yang jatuh ke tempat tersebut. Lebih dari 100 patogen yang dihubungkan dengan lalat rumah, termasuk: di dalamnya adalah: Salmonella, Staphylococcus, E. coli dan Shigella. Patogen ini dapat menyebabkan penyakit pada manusia dan hewan, termasuk: demam tifoid, kolera, disentri basiler, hepatitis, ophthalmia, polio, TBC dan diare. Sanitasi sangat penting untuk mengendalikan hama ini, tetapi identifikasi yang akurat sangat penting untuk suksesnya pengontrolan hama lalat.

Jenis Jenis Lalat Di Indonesia

  1. Lalat Rumah (Musca Domestica)

    Termasuk ke dalam famili muscidae, sebarannya di seluruh dunia. Berukuran sedang, panjang 6-8 mm, berwarna hitam keabu-abuan dengan bagian memanjang pada bagian dorsal toraks. Mata lalat jantan lebih besar dan sangat berdekatan satu sama lain. Sayapnya mempunyai vena 4 yang melengkung tajam ke arah kosta mendekat vena 3. Di daerah tropika lalat rumah membutuhkan waktu 8-10 hari pada suhu 30 C dalam satu siklus hidupnya dari telur larva, pupa dan dewasa. Telurnya berbentuk seperti pisang, berwarna putih kekuningan dan panjangnya kira-kira 1 mm, menetas dalam waktu 10-12 jam pada suhu 30 C. Larvanya tumbuh mulai dari 1 mm hingga menjadi 12-13 mm setelah 4-5 hari pada suhu 30 C. Dalam kondisi alami, lalat rumah hidup hanya sekitar satu minggu.
  2. Lalat Kandang (Stomoxys Calcitrans)
    Lalat ini bentuknya menyerupai lalat rumah tetapi berbeda pada struktur mulutnya. Banyak dijumpai di pemukiman tetapi sangat umum pada peternakan sapi perah atau sapi yang selalu dikandangkan. Lalat ini merupakan penghisap ternak yang dapat menurunkan produksi susu. Lalat kandang dewasa berukuran panjang 5-7 mm, bagian toraksnya terdapat garis gelap yang diantaranya berwarna terang. Sayapnya mempunyai vena 4 yang melengkung tidak tajam ke arah kosta mendekati vena 3. Antenanya terdiri dari 3 ruas, ruas terakhir paling besar, berbentuk silinder dan dilengkapi dengan arista yang mempunyai bulu hanya bagian atas. Lalat dewasa menghisap darah hewan dan cenderung tetap di luar rumah di tempat yang terpapar sianar matahari. Lalat kandang termasuk penerbang yang kuat dan bisa melakukan perjalanan jauh dari tempat perindukannya. 
  3. Lalat Hijau (Calliphoridae)
    Lalat ini terdiri lebih banyak jenis umumnya berukuran dari sedang sampai besar, berwarna hijau, abu-abu, perak mengkilat atau abdomen gelap. Lalat ini berkembang biak di bahan yang cair/semi cair yang berasal dari hewan, termasuk daging , ikan, bangkai, sampah ikan, sampah dan tanah yang mengandung kotoran hewan. Lalat ini jarang berkembang biak di tempat kering/bahan buah-buahan. Ketika populasinya tinggi lalat ini akan memasuki dapur meskipun tidak sesering lalat rumah. Di Indonesia lalat hijau yang umum di daerah pemukiman adalah Chrysomya Megachepala.
  4. Lalat Daging (Sarcophaga sp.)
    Lalat ini berwarna abu-abu tua, berukuran sedang sampai besar, kira-kira 6-14 mm,. Lalat ini bersifat viviparus dan mengeluarkan larva hidup pada tempat perkembangbiakannya seperti daging, bangkai, kotoran dan sayur-sayuran yang sedang membusuk. Siklus hidup lalat ini berlangsung 2-4 hari, umumnya ditemukan di pasar dan warung terbuka, pada daging, sampah dan kotoran tetapi jarang memasuki rumah.
  5. Mimik (Drosophila sp.)
    Lalat ini berukuran kecil, jumlahnya bisa sangat banyak, mengganggu kesehatan manusia karena ketertarikannya terhadap buah atau sayuran terutama bahan yang mengalami fermentasi. Lalat ini menjadi pengganggu utama perusahaan pengalengan, pembuat bir, minuman dari anggur serta pasar buah dan sayuran. Lalat dewasa berukuran panjang 2,5 – 4,0 mm, biasanya berwarna kuning kecoklatan atau hitam kecoklatan. Telur menetas dalam waktu 4 hari. Termasuk lalat penerbang yang kuat dan sering aktif saat fajar menyingsing dan menjelang malam. 
  6. Musca sorbens
    Lalat ini berwarna lebih abu-abu daripada lalat rumah, berkembang biak di dalam kotoran yang terisolasi seperti kotoran manusia. Sering lalat ini mengganggu dan sangat persisten di pemukiman, menempel pada kulit manusia, luka dan mata( terutama yang terinfeksi). Lalat ini sangat umum di Mesir, dan bertanggung jawab dalam penyebaran trakhoma dan wabah sakit mata. 
  7. Lalat Rumah Mungil (Fannia sp.)
    Lalat ini berkembang biak di tempat kotoran basah hewan piaraan, orangutan, unggas atau buah-buahan yang sedang membusuk. Lalat ini lebih menyukai keadaan lebih sejuk dan lebih lembab. Lalat ini menghabiskan waktunya lebih banyak di dalam hunian manusia. Lalat ini tidak pernah melimpah populasinya di daerah tropika.


Sumber : http://pestcoin.blogspot.com/2010/10/lalat.html

GAMBAR MORFOLOGI LALAT RUMAH (Musca domestica)

1. Keterangan Gambar
A. Tarsus
B. Antena
C. Torax
D. Mata
E. Sayap

2. Klasifikasi Lalat Rumah
Kingdom: Animalia
Phylum: Arthoropoda
Kelas: Hexapoda
Ordo: Diptera
Family: Muscidae
Genus: Musca
Spesies : Musca domestica.

3. Morfologi
         Lalat rumah berukuran sedang, panjangnya 6-7,5 mm, berwarna hitam keabu-abuan dengan empat garis memanjang pada bagian punggung. Mata lalat betina mempunyai celah lebih lebar dibandingkan lalat jantan (lihat Gambar 1). Antenanya terdiri atas 3 ruas, ruas terakhir paling besar, berbentuk silinder dan memiliki bulu pada bagian atas dan bawah Bagian mulut atau probosis lalat seperti paruh yang menjulur digunakan untuk menusuk dan menghisap makanan berupa cairan atau sedikit lembek. Bagian ujung probosis terdiri atas sepasang labella berbentuk oval yang dilengkapi dengan saluran halus disebut pseudotrakhea tempat cairan makanan diserap. Sayapnya mempunyai empat garis (strep) yang melengkung ke arah kosta/rangka sayap mendekati garis ketiga. Garis (strep) pada sayap merupakan ciri pada lalat rumah dan merupakan pembeda dengan musca jenis lainnya. Pada ketiga pasang kaki lalat ini ujungnya mempunyai sepasang kuku dan sepasang. Bantalan disebut pulvilus yang berisi kelenjar rambut. Pulvilus tersebut memungkinkan lalat menempel atau mengambil kotoran pada permukaan halus kotoran ketika hinggap di sampah dan tempat kotor lainnya.

 4. Siklus Hidup
       Daur hidup ada 4 stadium: telur, larva (belatung), pupa dan dewasa. Tergantung pada temperature. Lama pertumbuhan (telur-dewasa) 6-42 hari. Longevity (lama kehidupan lalat) 2-3 minggu, pada kondisi dingin hidup sampai 3 bulan. Dalam kehidupan lalat dikenal ada 4 (empat) tahapan yaitu mulai dari telur, larva, pupa dan dewasa. Lalat berkembang biak dengan bertelur, berwarna putih dengan ukuran lebih kurang 1 mm panjangnya. Setiap kali bertelur akan menghasilkan 120–130 telur dan menetas dalam waktu 8–16 jam .Pada suhu rendah telur ini tidak akan menetas (dibawah 12 –13 º C). Telur yang menetas akan menjadi larva berwarna putih kekuningan, panjang 12-13 mm. Akhir dari phase larva ini berpindah tempat dari yang banyak makan ke tempat yang dingin guna mengeringkan tubuhnya, Setelah itu berubah menjadi kepompong yang berwarna coklat tua, panjangnya sama dengan larva dan tidak bergerak. Phase ini berlangsung pada musim panas 3-7 hari pada temperatur 30–35 º C, Kemudian akan keluar lalat muda dan sudah dapat terbang antara 450–900 meter, Siklus hidup dari telur hingga menjadi lalat dewasa 6-20 hari Lalat dewasa panjangnya lebih kurang ¼ inci, dan mempunyai 4 garis yang agak gelap hitam dipunggungnya. Beberapa hari kemudian sudah siap untuk berproduksi, pada kondisi normal lalat dewasa betina dapat bertelur sampai 5 (lima) kali. Umur lalat pada umumnya sekitar 2-3 minggu, tetapi pada kondisi yang lebih sejuk biasa sampai 3 (tiga) bulan Lalat tidak kuat terbang menantang arah angin, tetapi sebaliknya lalat akan terbang jauh mencapai 1 kilometer.
Sumber : http://pancarahmat.blogspot.com/2012/05/gambar-morfologi-lalat-rumah-musca.html

Waspadai Lalat Rumah


Seiring dengan datangnya musim musim penghujan, datang pula musim buah-buahan seperti : durian, mangga, rambutan, nangka…..dan lalat !
Musim hujan kerap dikaitkan dengan musim berjangkitnya beragam penyakit. Memasuki musim penghujan umumnya disertai dengan menculnya ribuan lalat. Lalat adalah binatang yang menyebarkan kuman bakteri penyakit diare dan tipus.
Mengenal Lalat
Lalat adalah insekta yang lebih banyak bergerak dengan mempergunakan sayap (terbang). Hanya sesekali saja bergerak dengan kakinya. Karena itu tidak heran jika daerah jelajahnya cukup luas. Lalat merupakan salah satu ordo Diptera yaitu serangga yang mempunyai sepasang sayap berbentuk membran. Pada saat ini telah ditemukan tidak kurang dari 60.000−100.000 spesies lalat. Namun tidak semua spesies ini perlu diawasi, karena beberapa di antaranya tidak berbahaya bagi manusia ditinjau dari segi kesehatan.

Lalat rumah
Salah satu spesies lalat yang perlu diawasi adalah lalat rumah (Musca domestica). Umumnya, umur lalat rumah berkisar antara 1−2 bulan, tapi ada juga yang 6 bulan sampai 1 tahun. Semua bagian tubuh lalat rumah bisa berperan sebagai alat penular penyakit (badan, bulu pada tangan dan kaki, feces dan muntahannya). Penyakit yang biasanya menjadi langganan penularan lalat rumah ini di antaranya kolera, diare, disentri, tifus, dan virus penyakit saluran pencernaan. Kondisi lingkungan yang kotor dan berbau merupakan tempat yang sangat baik bagi pertumbuhan dan perkembangbiakan lalat rumah. Sampah basah hasil buangan rumah tangga merupakan tempat yang disukai lalat rumah untuk mencari makanan sekaligus tempat berkembang biak.
Habitat Lalat
Lalat memiliki habitat yang berbeda antara tahap pradewasa dengan tahap dewasa. Tahap pradewasa memilih habitat yang cukup banyak bahan organik yang sedang mengalami dekomposisi (penguraian), misalnya sampah organik dan basah. Tahap dewasa juga menyukai sampah organik, hanya daerah jelajahnya yang luas. Sehingga dapat memasuki rumah atau tempat manusia beraktivitas. Kedua perbedaan habitat ini menyebabkan kehidupan tahap pradewasa tidak bersaing dengan kehidupan tahap dewasa. Karena tanpa persaingan, maka lalat dapat berkembang dengan optimal.
Tahap pradewasa lalat lebih banyak mengganggu dibandingkan nyamuk. Karena itu manusia lebih menghindari larva lalat daripada nyamuk, meski keduanya tidak dikehendaki. Dari sudut pandang positif, larva lalat sebenarnya diperlukan oleh alam karena bersifat sebagai dekomposer (pengurai). Suhu lingkungan, kelembaban udara dan curah hujan adalah komponen cuaca yang mempengaruhi kualitas dan kuantitas makhluk hidup di alam. Siklus hidup serangga, khususnya lalat, sangat dipengaruhi oleh cuaca. Kendati lalat lebih banyak hidup di daerah pemukiman, tahap hidup pradewasa lebih banyak hidup bebas di alam. Larva lalat amat rentan terhadap kelembaban udara, suhu udara yang menyimpang, dan curah hujan yang berlebihan.
Dengan demikian, kita harus cermat menghadapi dampak cuaca/musim terhadap perkembangan lalat. Pengendalian tanpa meneliti pengaruh musim akan membawa dampak negatif terhadap pengendalian itu sendiri, paling tidak mengurangi efisiensi pengendalian.
Gambar-gambar Siklus hidup lalat
Pengendalian Lalat
Bila kita akan melakukan pengendalian lalat, kita harus menganalisa terlebih dulu sumber serangga tersebut, bagaimana populasi serangga tersebut meningkat, bagaimana derajat gangguannya pada individu dan komunitas, peran serangga terhadap penularan penyakit bakterial dan viral. Dalam dinamika populasi, keberadaan dan besarnya populasi ditentukan oleh faktor fisik berupa cuaca/ iklim, habitat dan ekosistem, keberadaan inang, dan faktor biotik (pakan dan musuh alami).
Metode Pengendalian Nonkimiawi
Metode ini dikenal sebagai metode yang ramah lingkungan, dan bilamana analisanya benar, akan lebih mengenai sasaran dan mempunyai berbagai dampak positif, misalnya populasi serangga menurun serta peningkatan mutu lingkungan. Langkah- langkahnya yaitu:
  1. Dengan cara pemulihan lingkungan berupa meningkatkan mutu sanitasi, yaitu dengan cara mengatasi kelemahan dalam pembuangan sampah, meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kebutuhan akan lingkungan yang bersih dan penataan hunian yang sehat. Usaha ini bertujuan untuk mencegah terjadinya sarang-sarang lalat.
  2. Penggunaan bahan fisik: penggunaan bahan fisik dipergunakan untuk mencegah kontak dengan lalat. Misalnya dengan cara mengatur tata letak dan rancang bangun rumah tinggal agar tidak mudah lalat masuk ke dalam. Penggunaan air curtain. Alat ini sering harus dipasang di tempat umum, misalnya pertokoan, rumah makan, pada pintu masuk. Alat ini mengembus udara yang cukup keras sehingga lalat enggan masuk ke dalam bangunan.
Metode Pengendalian Kimiawi
Yaitu metode pengendalian lalat menggunakan bahan kimiawi, yakni dengan cara:
  1. menghilangkan tempat perindukan, seperti penggunaan insektisida pada tempat perindukan berupa serbuk tabur untuk tempat perindukan lalat, atau pakan unggas yang telah diperkaya dengan insektisida. Dengan harapan tinja masih mengandung insektisida untuk membunuh larva
  2. menggunakan racun serangga. Racun serangga dapat dibedakan berdasarkan tempat masuknya. a) Stomach poison (racun perut). Insektisida jenis ini masuk ke dalam tubuh serangga melalui mulut atau termakan. Biasanya insektisida ini digunakan untuk serangga yang mempunyai alat mulut menggigit, lekat isap dan bentuk penghisap. (b) Contact poison (racun kontak). Insektisida jenis ini masuk ke dalam tubuh serangga melalui spirakel alat pernapasan atau melalui integumen ke dalam darah. Pada umumnya insektisida jenis ini digunakan untuk serangga yang mempunyai bentuk mulut tusuk isap. (c) Fumigans (racun pernapasan). Insektisida jenis ini masuk ke dalam tubuh serangga melalui sistem pernapasan berupa spirakel yang terdapat di permukaan tubuh, biasanya insektisida jenis ini digunakan untuk serangga yang tidak tergantung pada bentuk mulutnya.
Menjaga kebersihan, mencuci tangan sebelum makan, tidak jajan sembarangan bisa jadi merupakan upaya mencegah penyakit musim penghujan yang disebarkan oleh lalat.
Sumber :
almawaddah.or.id



Sumber : http://rumahkusarangmu.wordpress.com/2010/11/23/waspadai-lalat/

Umur lalat

Lalat ? kamu tahu berapakah umur lalat dan binatang apapkah dia ?
LALAT merupakan serangga dari ordo Diptera yang mempunyai sepasang sayap biru berbentuk membran. Semua bagian tubuh lalat rumah bisa berperan sebagai alat penular penyakit (badan, bulu pada tangan dan kaki, feces dan muntahannya). Kondisi lingkungan yang kotor dan berbau dapat merupakan tempat yang sangat baik bagi pertumbuhan dan perkembangbiakan bagi lalat rumah.Umur lalat rumah antara 1–2 bulan dan ada yang 6 bulan sampai 1 tahun. Selama dalam siklus hidupnya lalat rumah mempunyai 4 stadium. Pertama, stadium telur. Stadium ini lamanya 12–24 jam. Bentuk telur lonjong bulat berwarna putih. Besar telur 1–2 mm. Telur dikeluarkan oleh betina sekaligus sebanyak 100–150 butir. Di tempat kotoran yang panas dan lembab merupakan faktor yang dapat mempengaruhi lamanya stadium ini. Makin panas makin cepat, makin dingin makin lambat. Kedua, stadium larva. Stadium larva ini ada tiga tingkatan. (a) Setelah keluar dari telur belum banyak bergerak. (b) Tingkat dewasa, banyak bergerak. (c) Tingkat terakhir, tidak banyak bergerak. Kalau kita lihat lebih jauh, larva ini bentuknya bulat panjang dengan warna putih kekuning-kuningan dan keabu-abuan, mempunyai segmen sebanyak 13 dan panjangnya 18 mm. Larva ini selalu bergerak dan makan dari bahan–bahan organik yang terdapat di sekitarnya. Pada tingkat terakhir (c) larva berpindah dari tempat yang kering ke tempat yang sejuk. Untuk berubah menjadi kepompong lamanya stadium ini 2-8 hari atau 2-5 hari tergantung dari temperatur setempat. Larva ini mudah terbunuh dengan temperatur 73oC. Ketiga, stadium pupa. Lamanya stadium ini 2-8 hari atau tergantung dari temperatur setempat. Bentuk bulat lonjong dengan warna cokelat hitam. Stadium ini kurang bergerak atau tidak bergerak sama sekali. Panjangnya lebih kurang 5 mm. Mempunyai selaput luar yang keras disebut posteroor spiracle yang berguna untuk menentukan jenisnya. Keempat, stadium dewasa. Stadium ini adalah stadium terakhir yang sudah berwujud serangga yaitu lalat. Dari stadium telur sampai stadium dewasa memakan waktu 7 hari atau lebih tergantung pada keadaan sekitar dan macamnya lalat. Biasanya 8-20 hari.Pengendalian lalat Pada umumnya perkawinan lalat terjadi pada hari ke-2 sampai hari ke-12 sesudah keluar dari kepompong. Dua sampai tiga hari kemudian sesudah kawin baru bertelur yang jumlahnya sekali bertelur 100–150 butir dan setiap betina dapat bertelur 4–5 kali seumur hidupnya. Makanan yang utama adalah barang-barang cair. Ada zat gula, sementara itu bagi benda-benda yang keras dicairkan terlebih dahulu dengan air ludahnya supaya dapat dihisap. Pada waktu makan sering kali memuntahkan sebagian makanan. Dengan demikian, memungkinkan untuk penyebaran kuman-kuman penyakit.Usaha pengendalian lalat dapat dilakukan dengan beberapa cara. Pertama, usaha perbaikan lingkungan, terutama melalui pembuangan sampah yang memenuhi syarat kesehatan. Usaha ini bertujuan untuk mencegah terjadinya sarang-sarang lalat. Kedua, usaha pengendalian secara biologis. Usaha ini dilakukan dengan jalan disterilisasi terhadap lalat jantan, dengan tujuan agar lalat tersebut bila mengadakan perkawinan akan dihasilkan telur steril. Cara ini hanya dapat dilakukan di laboratorium.Ketiga, usaha pengendalian dengan menggunakan racun serangga. Racun serangga dapat dibedakan berdasarkan tempat masuknya. (a) Stomach poison (racun perut). Insektisida jenis ini masuk ke dalam tubuh serangga melalui mulut atau termakan. Biasanya insektisida ini digunakan untuk serangga yang mempunyai alat mulut menggigit, lekat isap dan bentuk penghisap. (b) Contact poison (racun kontak). Insektisida jenis ini masuk ke dalam tubuh serangga melalui spirakel alat pernapasan atau melalui integumen ke dalam darah. Pada umumnya insektisida jenis ini digunakan untuk serangga yang mempunyai bentuk mulut tusuk isap. (c) Fumigans (racun pernapasan). Insektisida jenis ini masuk ke dalam tubuh serangga melalui sistem pernapasan berupa spirakel yang terdapat di permukaan tubuh, biasanya insektisida jenis ini digunakan untuk serangga yang tidak tergantung pada bentuk mulutnya.Apa itu flavonoid?Jeruk manis (Citrus aurantinum) berasal dari India timur laut, Cina selatan, Birma utara, dan Vietnam. Pada saat sekarang jeruk manis sudah banyak ditanam di daerah tropis maupun subtropis. Jeruk manis umumnya ditanam di daerah 20–40 LU, dan 20–40 LS, sedangkan di sekitar khatulistiwa dapat ditanam sampai ketinggian 2.000 m dari permukaan laut. Temperatur optimal pertumbuhannya antara 25–30oC.Buah jeruk yang semakin tua, kandungan gulanya semakin bertambah, tetapi kandungan asamnya makin berkurang. Buah jeruk manis yang langsung terkena sinar matahari akan mengandung gula lebih banyak, demikan juga kandungan vitamin C-nya. Asam amino adalah persenyawaan yang dapat menjadi struktur protein. Selama perkembangan buah, kandungan asam amino berubah-ubah secara kuantitatif dan kualitatif.Kandungan asam sitrat jeruk manis pada waktu muda cukup banyak, tetapi setelah buah masak makin berkurang. Kandungan asam sitrat jeruk manis valencia yang telah masak akan berkurang sampai dua pertiga bagian. Cairan buah jeruk manis mengandung asam malat 1,4–1,8 mgm per liter.Flavonoid adalah salah satu jenis senyawa yang bersifat racun/ aleopati terdapat pada kulit jeruk manis, merupakan persenyawaan glucoside yang terdiri dari gula yang terikat dengan flavon. Flavonoid yang tidak ada rasanya disebut hesperidin, sedangkan limonin menyebabkan rasa pahit.Flavonoid merupakan salah satu golongan fenol alam yang terbesar. Golongan flavonoid mencakup banyak pigmen yang paling umum dan terdapat pada seluruh dunia tumbuhan mulai dari fungus sampai angiospermae.Golongan flavonoid dapat digambarkan sebagai deret senyawa C6–C3–C6 artinya kerangka karbonnya terdiri atas dua gugus C6 (cincin benzena tersubtitusi) disambungkan oleh rantai alifatik ketiga karbon. Flavonoid mempunyai sifat yang khas yaitu bau yang sangat tajam, sebagian besar merupakan pigmen warna kuning, dapat larut dalam air dan pelarut organik, mudah terurai pada temperatur tinggi.Flavonoid punya sejumlah kegunaan. Pertama, terhadap tumbuhan, yaitu sebagai pengatur tumbuhan, pengatur fotosintesis, kerja antimiroba dan antivirus. Kedua, terhadap manusia, yaitu sebagai antibiotik terhadap penyakit kanker dan ginjal, menghambat perdarahan. Ketiga, terhadap serangga, yaitu sebagai daya tarik serangga untuk melakukan penyerbukan. Keempat, kegunaan lainnya adalah sebagai bahan aktif dalam pembuatan insektisida nabati dari kulit jeruk manis.Sebagai insektisida nabati, di sini flavonoid masuk ke dalam mulut serangga (lalat rumah) melalui sistem pernapasan berupa spirakel yang terdapat di permukaan tubuh dan menimbulkan kelayuan pada saraf, serta kerusakan pada spirakel akibatnya tidak bisa bernapas dan akhirnya mati.Akhirnya, tidak berlebihan bila yang kita gunakan sebagai insektisida alami untuk menekan populasi lalat itu adalah kulit jeruk manis. Sebab, pada kulit jeruk manis apabila diolah dapat diperoleh persenyawaan hesperidin dan flavonoid. Tepatnya, dari kulit jeruk manis dapat diperoleh tiga jenis pigmen atau zat warna yaitu xanthophyll, violaxanthin, dan flavonoid. Nah, kandungan flavonoid inilah yang mempunyai sifat insektisida. Oleh karena itu, dari kulit jeruk manis ini apabila diolah secara tepat dapat digunakan sebagai racun serangga.*** Arda Dinata Teknisi Litkayasa di Loka Litbang Pemberantasan Penyakit Bersumber Binatang (P2B2) Ciamis, Balitbang Kesehatan Depkes.Tulisan ini dimuat di HU Pikiran Rakyat, Bandung edisi: 16 Februari 2006.
 
Sumber : http://wahyudin-info.blogspot.com/2011/03/umur-lalat.html
 

Belatung: Binatang Pengungkap Kematian

Tubuh laki-laki itu terbujur kaku di kamarnya. Tidak seorangpun yang tahu apalagi menyaksikan kematiannya, sampai-sampai bau busuk dari sang mayat menyeruak keluar jendela dan pintu.
Para petugas semuanya mengenakan masker untuk menghindari terhisapnya bau racun tersebut. Kapan, mengapa dan bagaimana ia meninggal tak ada satu orangpun yang bisa menjelaskan, hanya ditemukan ribuan belatung menggeliat di tubuh mayat tersebut.
Dapatkah makhluk kecil tersebut menyingkap tabir dibalik misteri kematiannnya?
Keberadaan belatung dimayat dapat membantu mengungkapkan banyak hal seperti waktu kematian, penyebab kematian bahkan identitas mayat dan pelaku pembunuhan.
Ternyata hewan kecil yang menjijikkan bagi sebagian orang tersebut berperan besar dalam penyelidikan forensik, dalam ilmu entomologi forensik, belatung dianggap sebagai “amazing insect”.
Mengenal Lebih Dekat Belatung
Belatung sebenarnya adalah larva lalat, kutu dan kumbang. Umumnya larva hidup sebagai parasit dan merusak jaringan makhluk lain, dan kebanyakan belatung yang terdapat pada mayat yang terpapar berasal dari larva lalat.
Kenapa belatung sering ditemukan pada mayat? Karena mayat mengeluarkan bau busuk terutama ketika terpapar udara bebas, maka lalat, kutu atau kumbang sebagai makhluk yang paling doyan dengan bau-bau busuk merasa terpanggil untuk mendekat dan melekat kemudian meletakkan telurnya pada bagian tubuh mayat, nah telur tersebut menetas dan mengeluarkan larva yang lazim disebut belatung.
Bukan hanya mayat yang digemari para larva ini, mahkluk yang masih hiduppun bisa menjadi rumah favorit bagi belatung, sebagai contoh kisah yang masih hangat seorang bocah, Ummi Darmiati di daerah Mamuju yang berjuang melawan rasa sakit akibat serangan belatung-belatung ganas yang bersarang di tubuhnya.
Kerjasama Tim Forensik Dengan Belatung
1. Saat menghembuskan nafas terakhir Memastikan waktu kematian tanpa ada saksi tentu sangat sulit, paling tidak memperkirakan dengan melihat keadaan mayat. Misal kekakuan mayat, lebam pada mayat dll. Belatung dapat memberikan kontribusi untuk perkiraan waktu kematian. Caranya : memeriksa alat pernafasan belatung, sebab alat pernafasan ini terus mengalami perubahan sejalan dengan waktu. Tentu saja yang bisa mengetahuinya adalah para ahli forensik.
2. Perpindahan mayat Belatung dapat membantu menentukan apakah lokasi ditemukannya mayat sama dengan lokasi kematian. Caranya : mencocokkan jenis belatung atau serangga lain yang ditemukan di tubuh mayat dengan tipe lalat atau serangga lain yang hidup di sekitar lokasi ditemukannya mayat.
3. Identitas mayat Seringkali ditemukan tubuh mayat sudah tak berbentuk, sulit dikenal atau tanpa petunjuk identitas yang jelas. Sebagai contoh, mayat yang harus digali dari kuburan untuk sebuah visum. Untuk memastikan identitas mayat tersebut, belatung sangat berperan. Caranya : karena kebisaan belatung yang mencerna jaringan tubuh mayat, maka saluran cerna belatung diperiksa melalui tes DNA untuk proses identifikasi. Selain itu belatung juga memakan cairan sperma atau cairan vagina, sehingga selain identifikasi korban belatung dapat juga digunakan untuk mencari identitas pelaku dalam kasus kekerasan seksual.
4. Mencari Penyebab Kematian Untuk yang satu ini, belatung benar-benar unjuk gigi, sebab mengungkap misteri penyebab kematian bukanlah hal yang mudah. Caranya : Bagian tubuh mayat yang menjadi tempat paling favorit berkumpulnya belatung merupakan sebuah petunjuk penting. Belatung umumnya paling menyukai hidup dibagian mata, hidung, telinga, mulut. Intinya bagian berlobang dari tubuh, karena belatung suka kegelapan di lobang
Bagaimana jika belatung ditemukan pada bagian tubuh yang lain? Nah ini dia petunjuknya. * Apabila belatung ditemukan di lengan misalnya, maka diidentifikasi ada luka di lengan, sebab luka yang mengeluarkan darah merupakan hal yang amat menarik dan disukai para belatung sehingga mereka berkumpul dibagian luka tersebut. * Demikian juga bila belatung ditemukan di bagian kemaluan dan anus, padahal bagian ini termasuk tempat yang tidak disukai belatung (tahu diri juga nih makhluk), tetapi jika ada bau-bau khusus yang menarik mereka untuk berkumpul disana (misal bau cairan sperma dan vagina) maka belatung akan banyak ditemukan didaerah ini, jadi dapat diidentifikasi bahwa sebelum kematian terjadi kekerasan seksual. * Bahkan, jika ada kecurigaan keracunan pun, dapat diketahui melalui belatung yaitu belatung di ekstraksi dan dilakukan uji racun ( toksikologi).
Mahkluk kecil ini ternyata sangat bermanfaat dalam usaha mencari kebenaran, tapi sepertinya dalam aplikasi penyelidikan di Indonesia belum terlalu dimanfaatkan.

 
Sumber : http://dzikirmaut.wordpress.com/2011/11/03/belatung-binatang-pengungkap-kematian/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar