Selasa, 13 Oktober 2015

Seni Budaya : Wayang; Apa dan Siapa Tokohnya



                                                                

                                                                     JILID I         
     OLEH: HERMAN PRATIKTO

Menonton pertunjukan wayang kulit,bukan seperti menonton film untuk sekedar mencari hiburan.Tetapi lebih bersifat kejiwaan atau kerohanian.
Kita diajar mengenal diri sendiri dan kehidupan yang konkrit.
Dan ternyata pagelaran wayang kulit,bukan pertunjukan pengalaman batiniah orang jawa semata,tetapi pengalaman hidup manusia universil.
1.1    Kehidupan ini seperti drama diatas panggung.Gubahan sandiwara klasik pujangga agung William Shakespeare yang hidup pada abad ke XVI (Inggris),seringkali mengesankan kata-kata simbolik itu.Dan hidup didalam simbolisme wayang,menyatakan demikian pula.
1.2    Wayang adalah simbol manusia yang monodualis (dwi tunggal).Raga dan jiwa.
Maka wayang merupakan bahasa kehidupan yang konkrit.Mengajar kita untuk mengenal hidup dan kehidupan kita sendiri.
1.3    Karena wayang adalah simbol kehidupan manusia,maka terpantullah peragaan perwatakan insani.Tingkah laku,peringai,fiil,cita rasa,angan-angan,sir,cipta,rasa,karsa,budi,dan pribadi yang utuh sebagai makhluk sosial dan umat Tuhan.
1.4    Para ahli sudah bersepakat,bahwa cerita wayang bukan sejarah.Tetapai lebih dititik-beratkan kepada lambang kehidupan.Itulah sebabnya,cerita wayang pada hakekatnya menampilkan ajaran m o r a l dan pengarahan cita rasa yang luhur.
Kita diajar bagaimana harus hidup individu,sebagai anggota keluarga,tata atur didalam pergaulan formil (di perguruan,ditengah pertemuan resmi dsb) dan di dalam masyarakat.Juga dibimbing sebagai umat Tuhan yang senantiasa ingat kepada-NYA.
Kita diajar bersikapdan berbuat.Diajar menentukan pilihan yang cepat.Sebab manusia hidup ini akan selalu dihadapkan kepada masalah menentukan pilihan.
Kekiri atau kekanan? Ya atau tidak? Ke atas atau ke bawah? Dia atau yang lain? Bila memutuskan kekiri,berarti sudah memilih.Menentukan ke kanan,sudah memilih.
Bahkan bersikap tidak kekiri atau kekanan,berarti sudah memilih juga.
Soalnya sekarang bagaimana memilih sesuatu dengan cepat dan tepat? Dalam cerita wayang banyak kita temukan tamsil demikian .Perumpamaanya,sebab-musabab dan akibatnya.
Tetapi yang lebih pentiing,wayang dapat membentuk watak,peringai,fiil dan budi pekerti yang baik.Bahkan sampai kepada sikap dan pandangan hidup.
2.1    Yang menganggap pertunjukan wayang adalah lambang Yang Maha Kuasa.Dialah menentukan ceritera wayang yang harus dipagelarkan.
Yang melakukan pagelaran cerita wayang yang sudah ditentukan itu,bernama dalang.Dia berkuasa penuh.Membunuh atau menghidupkan tokoh-tkohnya.Meskipun demikian,kekuasaanya terbatas.Dia tidak boleh mengubah jalan cerita yang sudah ditentukan.Juga terbatas oleh pola watak dan sifat wayang itu sendiri.Maka dalang adalah lambang trimurti,Sang Pramana,jiwa atau roh.
Dalang berada didepan (menghadap) layar.Sedang yang menanggap berada dibelakang layar.Dengan demikian,dalang tidak dapat melihat yang menanggap,karena terbatas (terhalang) oleh layar atau tabir.Jadi,meskipun Sang Pramana,jiwa atau roh,berkuasa penuh atas manusia,tetap saja tdak dapat melihat Yang Maha Kuasa.
2.2    Wayang sebagai paraga kehidupan adalah makhluk yang terdiri dari keluarga dewa,manusia,jin,setan,raksasa,gandarwa dan binatang.Jumlahnya antar 150 sampai 300 buah, ditambah dengan berbagai macam senjata,perahu,kereta berkuda,barisan,gunungan dan sebagainya.
Mula-mula disimpan dalam kotak kayu.Sebagian besar ditancapkan(dijajarkan) diatas debog bagian kiri dan bagian kanan.Sedang sisanya tetap berada(tersimpan)didalam kotak terbuat dari kayu.
Kotak adalah lambang asal mula dan tempat pulangnya makhluk.Karena sesudah pertunjukan usai,seluruh wayang dimasukkan kembali kedalam kotak.
2.3     Kelir atau layar ialah udara atau jagad raya. Makro kosmos berbareng dengan mikro kosms.
Debog (pohon pisang) berkedudukan sebagai bumi,tempat manusia berpijak. Kadangkala berfungsi pula sebagai lautan.
Blencong (lampu) dinyatakn sebagai matahari,bulan dan bintang itulah cahaya hidup bagi dunia raya.
Gamelan (instrumen) merupakan irama hidup,termasuk rasa senang dan sedih, makan minum dan keperluan hidup lainnya.
Gunungan yang disebut dengan nama k a y o n tertancap di tengah-tengah  layar.Kayon berarti pohon atau kayun yang berarti hidup. Dengan demikian, gunungan atau kayon adalah lambang sebagai pembuka dan penutup cerita makhluk.
Cempala (alat pemukul kotak terbuat dari kayu berbentuk indah) menggambarkan gerakan dan fungsi jantung.
Kepyak atau keprak (terbuat dari tiga lembar perunggu berukuran beda) melambangkan peredaran darah atau nafas.
Sekarang gamelan mulai dipukul membunyikan rangkaian lagu sebagai pengantar drama yang akan dipagelarkan.
2.4     Rangkaian lagu (gending) yang sudah ditentukan itu disebut p a t a l o n dari asal kata telu.Terdiri dari tujuh lagu (gending),yalah:
- Cucurbawuk,
- Srikaton,
- Suksma ilang,
- Ayak-ayakan,
- Slepegan,
- Sampak.
Menggambarkan atau melambangkan: 1.tatkala air hidup berada dalan rakhim. 2. Kemudian mulai tampak tanda-tandanya. 3. Siapapun dapat menyaksikan bahwa bunda sudah mengandung. 4. Terjadilah pergulatan antara hidup dan mati tatkala bunda harus melahirkan putranya. 5. Pada saat sang bayi membuka pintu dunia. 6. Dan lahirlah Sang bayi dengan selamat. 7. Baik yang menyaksikan maupun Sang bayi,berkenalan dengan sesuatu yang baru. Yang menyaksikan berkenalan dengan makhluk baru.Sedang Sang bayi berkenalan dengan dunia baru.
Setelah lagu (gending) paalon selesai,bersiagalah ki dalang untuk melaksanakan tugasnya mempagelarkan (mempergelarkan) cerita yang sudah ditentukan.
2.5    Drama wiracarita (pagelaran cerita wayang) dibagi dalam tiga babak.
Babak I menggambarkan kodrat manusia semasa kanak-kanak yang belum pandai membunuh hawa nafsu. Karena itu,di dalam babak pertama belum terjadi adegan saling membunuh.
Babak  II menggambarkan kodrat manusia sudah dewasa. Di dalam babak II mulai terjadi pembunuhan.Itulah adegan seorang satria membunuh raksasa.Artinya,pada masa itu,seseorang sudah pandai memilih yang buruk dan yang baik.
Babak III menggambarkan akhir hayat manusia. Setelah sekalian hawa nafsu tersingkirkan,matilah dia dengan tenang dan damai.
2.6    Dan seluruh wayang yang tadi berjajar teratur rapi diatas debog dan juga wayang-wayang lain yang berada disebelah kanan ki dalang,dimasukkan didalam kotak seperti semula.
Sesungguhnya, semua makhluk  tak dapat melawan atau mencoba mengingkari hukum alam atau yang sudah ditentukan. Lahir (tumbuh) berkembang,kemudian hilang.

                                                                  S E M A R
3.1    Namanya pendek saja. Semar! Tidak lebih dan tidak kurang. Mudah dihafal dan mudah diingat. Bentuk badannya aneh pula. Pendek bulat seperti bola. Rambutnya putih dengan kuncung mendongak keudara seolah-olah menunjukkan disanalah Tuhan bertahta. Hidungnya hampir rata (pesek). Kedua belah matanya basah. Giginya,satu. Dadanya gemuk. Perutnya kembung. Maka kehadirannya cepat dikenal setiap penggemar pertunjukan wayang kulit.
3.2    Meskipun buruk rupa,pandang mata dan tatap wajahnya berkesan menyenangkan sehingga menawan hati. Ia tokoh wayang yang jujur dan sederhana. Baik lahiriah maupun batinnya. Karena pandai menghormati sesama hidup,dia dihormati pula oleh sekalian satria dan raja. Bahkan dewapun berlaku hormat terhadapnya. Sebab, sesungguhnya ia penjelmaan dewa tertinggi. Penjelmaan dewa Ismaya yang manunggal (bersatu) dengan Hyang Tunggal.
3.3    Konon dikabarkan-dikala dunia belum berpenghuni- Hyang Wenang mempunyai aak tunggal bernama Hyang Tunggal yang dikawinkan dengan cucu bangsa jin yang bernama Dewi Rekatawati. Dewi Rekatawati ini anak seorang pendeta bernama Rekatama, yang berwujud seekor kepiting raksasa beristrikan Dewi Setyawati.
Perkawinan Hyang Tunggal dengan Dewi Rekatawati,melahirkan sebutir telur. Tatkala Hyang Tunggal hendak memerilksanya,tiba-tiba melesat kangkasa dan terbang menghadap Hyang Wenang. Oleh sabda Hyang Wenang,telur itu pecah menjadi tiga bagian. Dan masing-masing bagian berubah bentuk menjadi wujud manusia. Yang berasal dari kulit telur , diberi nama Maha Punggung. Yang berasal dari putihnya telur,diberi nama Ismaya. Sedangkan yang berasal dari kuningnya telur diberi nama Manikmaya.
Mula-mula mereka bertiga cukup rukun. Tiba-tiba terjadilah perselisihan berebut tua. Karena masing-masing tiada yang sudi mengalah, bertempurlah mereka mengadu sakti. Ketiga-tiganya tiada yang kalah dan yang menang.
Sekarang,perselisihan jadi berlanjut dan berkepanjangan. Tidak hanya berebut tua, tapipun beralih kepada masalah warisan. Siapakah kelak yang akan berhak menguasai jagad dan pemilik Kahyangan  Junggring Salaka yang indah luar biasa. Karena masalah ini menentukan hari kemudian,maka kali ini mereka bertempur hidup atau mati.
Mereka bertiga adalah putra Hyang Tunggal. Maka daya saktinya menggoncangkan seluruh dunia raya. Gunung meledak. Bumi bergerak berputaran dan lautan seperti teraduk-aduk.
Hyang Tunggal kemudian datang melerai. Sekarang ditentukan demi menyelesaikan pertikaian itu. Barang siapa dapat menelan Gunung Mahameru dan kemudian memuntahkan kembali dalam keadaan utuh, dialah yang berhak berkuasa di Kahyangan Junggring Salaka. Ketentuan ini disepakati mereka bertiga.
Pertama kali Maha Punggung mencoba menelan gunung tersebut,tetapi tidak berhasil. Bahkan mulutnya tersobek panjang. Dan kelak kita mengenal tokoh wayang bermulut sobek, bernama togog atau Tejamantri. Dialah penjelmaan Maha Punggung.
Kemudian Ismaya mendapat giliran untuk menelan Gunung Mahameru. Dia berhasil menelannya,tetapi tak dapat memuntahkan kembali sehingga perutnya menjadi gembung. Karena puncak gunung mendorong bagian pantat,maka pantatnyapun membesar. Dialah Semar.
Dengan ditelannya gunung itu, Manikmaya tak dapat memperlihatkan kesaktiannya. Tetapi Hyang Tunggal memastikan bahwa dia akan sanggup menelan dan memuntahkan gunung itu kembali atas perintahnya. KEMUDIAN Hyang Wenang memberikan keputusan begini:
1.    Maha Punggung dan Ismaya tidak punya hak lagi menjadi raja di Kahyangan. Mereka berdua harus turun kebumi dengan tugas menjaga ketertiban dan kesejahteraan dunia.
2.    Manikmaya ditetapkan menjadi raja di Kahyangan Junggring Salaka dan memerintah dunia triloka. Dunia dewa,dunia manusia dan dunia bangsa halus. Anak keturunannya yang kelak menjadi manusia (yang berbadan wadag atau berjasmani,termasuk bangsa raksasa) akan hidup tersebar luas memenuhi penjuru bumi.
3.    Maha Punggung diwajibkan mengasuh para raksasa,sedang Ismaya diwajibkan menjadi pamong anak manusia.
4.    meskipun mereka berdua harus hidup diatas bumi,namun mereka berdua diperkenankan datang di Kahyangan. Bahkan mereka diberi hak untuk mengambil tindakan terhadap Manikmaya,manakala raja dewa ini menyalahi atau melanggar peraturan kelestarian hidup.
3.4    Cerita tentang Ismaya menelan gunung dan tidak dapat memuntahkan kembali,sebenarnya adalah certa simbolik. Artinya dia berhasil menelan sesuatu yang tertinggi dan yang terbesar dan kemudian manunggal dengan dirinya. Karena itu Hyang Wenang berkanan bersatu dengan Hyang Tunggal. Dan Hyang Tunggal kemudian bersatu (manunggal) dengan Ismaya adalah manifestasi (pengejawantahan) Hyang Wenang dan Hyang Tunggal. Dan kelak,bila Ismaya bersatu pula dengan semar,maka semar sesungguhnya adalah manifestasi dari Hyang Wenang, Hyang Tunggal dan Ismaya pula.
3.5    Dan Semar,siapakah dia sebenarnya? Tiada seorang ahlipun yang dapat menjelaskan dengan tepat. Kepustakaan tentang Semar senantiasa bertentangan. Maka tak slahlah,bila nama Semar diberi makna : s a m a r  atau samar-samar.
Suatu kali dia diceritakan sebagai seorang Kepala Desa Dadapan iwlayah negara besar Wiratha.*)1  Ada pula yang menyebutnya sebagai paman dari Manikmaya.*)2
Sebagai Kepala Desa,pribadinya sangat disenangi rakyatnya. Tidak hanya jujur dan sederhana,tapipun gemar menolong sesamanya kemudian pergi bertapa meninggalkan kesibukan masalah duniawi. Dan pada saat itu,dia dihampiri Ismaya yang bersatu (manunggal)dengannya dan diwajibkan hidup berderma sebagai pamong atau pengasuh satria terpilih.
Syahdan pada saat itu seorang pendeta yang bermukim dipertapaan Saptaharga bernama Resi Manumayasa,sedang tekun bersemedi. Hyang Wisesa berkenan menghampiri. Gugup Resi Manumayasa melompat bersujud. Tatkala mendongakkan kepalanya,Hyang Wisesa telah gaib. Kemudian seorang insan bertubuh pendek bulat datang berlarian dengan berteriak-teriak ketakutan. Insan itu mengaku bernama Janggan Smara Santa. Dia ketakutan,karena diburu harimau berwarna hitam. Resi Manumayasa kemudian memanah harimau itu dan berubah bentuk menjadi bidadari yang sangat cantik, bernama Kanastri dan Kaniraras.*)3
Dan semenjak itu, Janggan Smara Santa yang kelak bernama Semar, mengabdi kepada keturunan Resi Manumayasa.
3.6    Memang untuk selama-lamanya,dia hamba seorang satria yang berbudi luhur. Tetapi sebenarnya, bukan hamba dalam arti harafiah. Lebih tepat disebut sebagai pengasuh atau pamong. Sebab,seringkali dia muncul sebagai penasihat dan cahaya tuntunan. Pemberi semangat dan juru selamat. Pencegah dan pemunah bentuk angkara yang membahayakan kesejahteraan dunia. Kadangkala pandai menjadi teman pelipur lara. Pandai pula menghibur dan tak jarang menjadi tabib pada waktu satria yang diasuhnya jatuh sakit. Dan semuanya itu, dilakukannya dengan tanpa pamrih. Artinya tidak mengharapkan balas jasa apapun.
3.7    Tak pernah ia marah dalam arti yang sesungguhnya.kecuali terhadap Batara Guru (Manikmaya) yang kadangkala mengganggu satria asuhannya dengan menjelma sebagai manusia.
Tak pernah pula ia mengutuk sesama hidup atau membuatnya susah. Ia menghormati sesama sebagai bagian dari hidupnya sendiri. Maka ia adalah lambang cinta kasih sejati.
3.8    Memang, Semar adalah tokoh simbolik. Merupakan konsep aspek illahi. Karena itu sukar sekali untuk coba mendekati apalagi menjamah hakekatnya. Makin kita mencoba mengerti kediriannya,makin kita tak mengerti. Maka seperti disebutkan diatas,tiada seorang ahlipun yang dapat menangkap pribadinya secara lengkap dan mutlak.
3.9    Semar berarti samar. Samar bermakna misteri. Maka Semar adalah misteri itu sendiri. Dan misteri adalah  h i d u p  mutlak yang meliputi hidup individu,universil dan absolut. Yang wadag dan tan wadag. Yang kasat mata dan yang tan kasat mata (yang berwujud dan yang tiada berwujud,yang nampak dan tak nampak). Yang menguasai dan dikuasai.
3.10   Belasan sarjana,puluhan ahli dan sesepuh (orang-orang tua yang berilmu) meninjau dan menelaah kehadirannya dari berbagai aspek. Tetap saja tokoh Semar tak terjamah dengan jelas.
Sebab Semar bukan tokoh sejarah seperti yang seolah-olah digambarkan dalam segala bentuk wiracarita. Tetapi sesungguhnya simbol pengertian. Gambar konsepsi aspek hidup. Dan siapakah yang mampu membuka rahasia tabir hidup? Apalgi bila hanya berbekal dengan akal dan nalar (rasio).
3.11   Cukuplah sudah,bila kita pandai memetik sifat-sifatnya yang konkrit. Syukur, manakala dapat menjadi cita-rasa penghayatan. Karena sifat,watak, peringai, perilaku, cara berpikir, cara bertindak, dan pertimbangan hatinya, dapat membawa kita naik ketataran i s a n  k a m i l. Itulah manusia terpuji diantara sesama manusia.
3.12   Ia adalah lambang cinta kasih. Karena itu bebas dari fitnah dan rasa fitnah dari luar. Bebas dari rasa benci,sedih dan senang.
Wajah dan hatinya senantiasa bersenyum merestui dan merakhmati siapapun,laksana cahaya bulan purnama. Karena itu dia disebut pula dengan nama: B a d r a.
Adapula yang menyebutnya dengan nama: Badranaya. Artinya menuntun kepada cahayanya cinta-kasih yang hangat.
Disebut Janabrada artinya sinar ilmu pengetahuan atau cahaya busana. Pendek kata cahaya dari segala cahaya.
Ia mencakup segala yang bertentangan,sekaligus merangkulnya,memeluknya,merangkum,merangkai,memperdamaikan,menyelaraskan dan meluluhkannya. Ia tak mengenal prtentangan apapun, bahkan terhadap pertentangan dan perbedaan apapun yang berlaku sebagai hukum alam. Baginya, gelap sama dengan terang. Tinggi sama dengan rendah. Luas sama dengan sempit. Laki-laki sama dengan perempuan. Dewa sama dengan manusia. Bebas dari hukum kiri dan kanan, baik dan jahat, ganjil dan genap, diam dan gerak, bengkok dan lurus.
Dan akhirnya,kedudukan dalam masyarakat adalah  p a m o n g.
3.13   Karena iu, gambar Semar sering dijadikan simbol  p a m o n g  yang sempurna. Bila kelak anda menjadi seorang pemimpin bangsa dan bersedia menghayati apalagi memiliki sifat-sifat Semar,maka anda pantas disebut pamong agung. Karena berkat kepemimpinan anda yang memiliki sifat Semar, akan menjadikan rakyat kita jadi bangsa yang cerdas,berpengetahuan tinggi,berbudi luhur dan bersemangat cinta-kasih.
                                                              H Y A N G     T U N G G A L
4.1    Siapa dia? Siapa pula yang disebut Hyang Wenang? Di dalam wiracarita,sebenarnya yang lengkap berbunyi Sang Hyang Tunggal dan Sang Hyang Wenang. Dan bila seseorang bertanya: siapa mereka, berarti membicarakan silslahnya.
Silsilah tokoh-tokoh wayang didalam kitab mahabharata,dmulai dengan Dewa Brahma yang kemudian berputra: Marici, Anggiras, Atri, Datri, Widatri, Manu, Dharma, Pulastya, Pulaha, Kratu, Stanu, Daksa, Bhregu, dan seterusnya.
Dan Dewa Marici berputra: Maharesi Kasyapa. Sedang Dewa Daksa berputra limapuluh. Semua putri. Kemudian yang sepuluh diperistrikan Dewa Darma. Yang 27 dipersunting Dewa Chandra. Dan sisanya (13) menjadi istri Maharesi Kasyapa. Selanjutnya anak keturunannya menjadi deretan nama dewa dan dewi. Sama sekali tiada terdapat nama Sang Hyang Tunggal atau Sang Hyang Wenang.
Sebaliknya tidak demikianlah halnya yang terdapat dalam kitab Kanda.,Purwakanda,Arjuna Sasrabahu,atau Manikmaya. Disebutkan bahwa Semar, Hyang Tunggal,Hyang Wenang dan leluhur sebelumnya adalah anak keturunan Nabi Adam.
Mengapa terdapat perbedaan total antara garapan para pujangga Jawa dan Mahabharata? Padahal tokoh wayang bersumber pada wiracarita Mahabharata.
Sederhana saja jawabannya. Karena masing-masing mempunyai konsep yang berbeda,sehingga bertolak belakang.
4.2    Menurut orang-orang India,semua tokoh-tokoh dan peristiwa-peristiwa yang tercatat didalam kitab Mahabarata,adalah benar-benar terjadi. Jadi cerita sejarah. Sedangkan pujangga-pujangga Jawa lebih menitik beratkan kepada simbolisme.
Berkatalah seorang sarjana India bernama Rama Prasad, bahwa perang besar antara keluarga Pandawa dan Kurawa (Bharatayudha) terjadi pada waktu 5.000 tahun sebelum abad 20. Mukswanya para Pandawa terjadi pada tahun 3179 sebelum tahun Saka.
Para pujangga Jawa menyangsikan kebenaran itu. Tetapiceritanya sendiri, sangat menarik danpantas untuk diabadikan sebagai ajaran moral atau kejiwaan. Tegasnya, para pujangga Jawa tidak menolak pernyataan itu. Hanya kini dipersatukan (dimanunggalkan) dengan pandangan dan sikap hidup budayanya.
Cerita Mahabarata dijadikan sumber sebagai b a g a n.  Lalu dijiwai dengan konsepsi pengertian orang Jawa. Setelah dimanunggalkan,diharapkan menjadi bentuk yang utuh, sempurna  r a g a  (badan) dan  j i w a (roh atau rasa). Dan jadilah wujud manusia yang hidup.
4.3    Maka diceritakan begini: Sanghyang Punggung, Ismaya dan Manikmaya adalah putra Sanghyang Tunggal. Sanghyang Tunggal putra Sanghyang Wenang. Sanghyang Wenang putra Sannghyang Nur Rasa. Sanghyang Nur Rasa putra Sanghyang Nur Cahya. Sanghyang Nur Cahya putra Nabi SIS. Nabi Sis putra NABI ADAM.
4.4    Jelas sekali,itu isapan jempol. Tapi jelas pulalah maksudnya. Pujangga-pujangga kita dahulu hendak bercerita tentang evolusi kejiwaan (evolusi jiwa).
Nur Cahya manunggal dengan Nur Rasa yang sudah menjadi satu dengan nur Cahya,kemudian manunggal dengan Sanghyang wenang. Dan Sang Hyang Wenang yang sudah bersatu (menjadi satu) dengan Nur Rasa dan Nur Cahya, manunggal dengan Sang Hyang Tunggal.
Tunggal artinya s a t u  atau sama/sejenis. Semuanya tidak akan pernah mati. Memang jiwa tidak akan mati. Yang mati adalah raga (badan) atau jasmani.
Wenang artinya h a k,  atau k u a s a. Jadi berarti,yang  kuasa manunggal menjadi satu (tunggal) adalah rasa dan cahya. Artinya r a s a manusia dengan cahaya hidup atau cahaya illahi. Bukan berarti r a s a dapat/kuasa manunggal dengan illahi (Tuhan). Tetapi  hanya kuasa manunggal dengan sifatnya atau cahayanya.
Suatu peringatan!
                                                                                                                                                                                                                                           

                                                          M  A N U M A Y A S A
                       SATRIA BRAHMANA YANG TERGOLONG MANUSIA MODERN
Kita pilih Manumayasa sebagai tokoh manusia pertama yang pantas kita bicarakan. Sebab,meskipun bukan manusia pertama yang hidup diatas muka bumi, namun dianggap sebagai cikal-bakal  satria-satria luhur dikemudian hari.
5.1    Manumayasa adalah anak keturunan Dewa Wisnu. Ayahnya bernama Parikenan,seorang resi  yang bermukim di Gunung Saptaharga.
Saptaharga,sebuah gunung yang terdiri dari tujuh bukit. Masing-masing bukit menjadi sebuah pertapa suci,kelak. Pertapaan Paremana, Giri  Sarangan, Arga Candi, Retanu, Marawu, Srungga dan Saptarengga.
Manumayasa atau sering disebut pula dengan nama Kanumayasa,bermukim diatas pertapaan Paremana. Ayahnya mengharapkan agar dia hidup sebagai pendeta. Meskipun tidak pernah membantah namun ia mempunyai  idaman hati sendiri. Selain menjadi pendeta,ingin pula berdarma sebagai seorang satria.
Dengan bekal pengetahuan ayahnya, ia berkeliling keseluruh negri. Tak segan-segan ia berguru kepada brahmana-brahmana yang sekiranya berilmu pengetahuan tinggi,baik mengenai ilmu kemukswaan maupun lahiriah.
Pada jaman itu,masalah kehidupan jauh berbeda bila dibandingkan dengan masa kini. Tiada masalah persaingan hidup. Tiada masalah perebutan rejeki. Tiada masalah kedudukan. Karena itu sungguh mengherankan, bila Manumayasa seolah-olah sudah berjuang untuk masa datang. Agaknya ia seperti sudah disadarkan oleh Sang Perencana Kehidupan bahwa dirinya akan menjadi cikal-bakal semangat keperwiraan dan kebrahmanaan yang cinta kepada ilmu pengetahuan.
5.2    Ia manusia terpilih dan dipilih. Di dalam wayang, dibuktikan sebagai berikut. Pada suatu hari, Kahyangan diserang laskar raksasa yang luar biasa kuatnya. Para dewa kalang kabut . pintu kahyangan terpaksa ditutup rapat. Batara Guru segera mangadakan rapat kilat. Dewa perlu mencari bala bantuan, karena tentara dewa tidak mampu mengalahkan laskar raksasa. Menurut Batara Guru,yang dapat menumbangkan keperkasaan laskar raksasa harus manusia. Soalnya sekarang siapa?
Batara Naradha mengingatkan akan tugas Hyang Ismaya. Katanya:
-          Hyang Ismaya kini sudah manunggal  dengan Janggan Smara. Tentunya beliau akan mencari satria pilihan yang diasuhnya. Ikutilah petunjuk beliau.
Pada waktu itu,Janggan Smara sedang merencanakan dalih. Dia berunding dengan dua bidadari bernama:  Kanastri dan Kaniraras agar merubah diri menjadi seekor harimau hitam. Kedua bidadari yang merubah diri menjadi seekor harimau hitam itu,harus mengejarnya. Dia akan berpura-pura lari ketakutan mendaki pertapaan Paremana. Ia yakin, Manumayasa akan segera mengulurkan tangan untuk menolongnya. Selanjutnya, ia akan merasa seperti seseorang yang berhutang budi. Untuk membalas budi itu, dia berjanji akan menjadi pengasuh anak keturunannya.
Batara Guru yang tidak perlu menciptakan suatu dalih, mendahului rencana pengabdian Janggan smara. Manumayasa diperintahkan naik ke kahyangan untuk menghancurka laskar raksasa yang biadab.
Setelah Batara Guru gaib,datanglah Janggan Smara minta pertolongannya. Ia mengaku diri sebagai Batara Wungku,cucu Hyang Ismaya. Perhitungannya tepat. Manumayasa segera membunuh harimau hitam dengan anak panahnya. Harimau hitam mati terbelah menjadi dua bagian dan kembali pada wujud semula. Bidadari Kaniraras kemudian dipersitrikan. Sedang bidadari Kanastren menjadi  istri Janggan Smara.
Dengan demikian, pada saat yang sama- Manumayasa terpilih menjadi pahlawan dewa dan dipilih oleh Janggan Smara menjadi anak asuhnya.
5.3    Seperti disebutkan diatas, Janggan Smara adalah penjelmaan Hyang Ismaya. Dialah Badranaya. Dialah Semar. Dan Semar  adalah konsep simbolik. Merupakan aspek illahi. Sekarang dia menjatuhkan pilihannya kepada manumayasa,  setelah berkeliling dunia ratusan tahun lamanya. Tentunya mempunyai alasan dan dasar-dasar kuat sebagai pendukungnya. Beberapa aspek pernah dibicarakan dengan luas. Diantaranya:
1.   Karena Manumayasa anak keturunan Dewa Wisnu dan Dewa Brahma (garis ayahnya)
2.   Berwatak Brahmana sejati,artinya tidak pernah melalaikan ibadahnya biar sedetikpun.
3.   Semua darmanya dipersembahkan kepada illahi.
4.   Berpengetahuan tinggi dan senantiasa haus akan ilmu pengetahuan.
5.   Hatinya senantiasa terbuka untuk siap menerima pengetahuan dari luar.
6.   Pandangan dan sikap hidupnya memandang kedepan.
7.   Memiliki disiplin yang kuat terhadap kebaktian dan ilmu pengetahuan.
8.   Berhati bersih, suci tanpa apmrih.
9.   Menjunjung tinggi tata-susila dan tata tertib sebagai sarana melestarikan kesejahteraan      hidup.
Ringkasnya: Manumayasa adalah seorang stria-brahmana yang tiada keduanya pada jamannya. Ia tangguh, tanggon (teguh) dan tawakal. Imannya tak pernah tergoncang,meskipun isterinya meninggal karena melahirkan anaknya.
5.4    Istri Manumayasa,bidadari Kaniraras yang disebut pula dengan nama Dewi Ratnawati.  Kehadirannya diatas permukiman Saptaharga menggoncangkan khasanah kehidupan, karena dia adalah bidadari yang pertama kawin dengan manusia. Tidak hanya bangsa halus saja yang terperanjat keheran-heranan bahkan sampai pula mengilhami seekor kera putih bernama Supalawa.
Tingkatan kedudukan Supala sudah mencapai tataran pendeta. Ia sakti, kebal dan pandai terbang. Pertapaanya terletak disebelah timur Saptaharga. Pada suatu malam,ia melihat secercah cahya melintas diatas pertapaan. Beberapa waktu kemudian, cahaya itu turun kebumi dan mendarat dipertapaan Paremana. Pikir Supalawa tentunya cahaya makhluk kekasih Dewa. Aku harus mengabdi kepadanya.
Ia bertemu dengan Manumayasa. Dan sesuai dengan janji hatinya, ia mengabdikan diri. Selanjutnya ia disebut dengan  p u t u t. Artinya abdi kepercayaan.
Cahaya itu sendiri,sebenarnya perbawa bidadari Kaniraras. Bidadari ini ingin menjadikan suaminya seorang satria-brahmana yang besar sepanjang masa. Maka ia membimbing Supalawa agar mengabdi kepada suaminya. Maksudnya berhasil. Dan ia senang.
Tatkala lagi mengandung tiga bulan,ia mengikuti suaminya pergi berburu. Di dekat sebuah ketinggian, ia mencium bau harum luar biasa. Bau harum itu menyegarkan seluruh tubuhnya. Maka  ia memohon kepada suaminya agar mencarikan penyebabnya.
Dengan diiringkan Janggan Smara, Manumayasa mencari asal datangnya bau harum. Ia melihat sebatang pohon hidup manyendiri diatas ketinggian. Bau harum ternyata terbersit dari pohon itu.
Dengan rasa heran, Manumayasa memeriksa pohon yang belum pernah dikenalnya. Ia mendongak dan melihat sebuah benda memancarkan cahaya kemilau. Tatkala angin lembut melanda dari balik ketinggian, benda itu menebarkan bau harum yang luar biasa.
-           Tentunya itu buahnya. Kenapa hanya sebuah? – Manumayasa heran.
-           Petiklah untukmu dan demi anak kita. –ujar Ratnawati. Teringatlah Manumayasa, istrinya seorang bidadari. Ia yakin,kehendaknya tentu bermaksud baik baginya. Maka dengan tak berpikir panjang lagi, ia memetik buah itu dan dipersembahkan kepadanya.
5.5    Dengan duduk santai dibawah rimbun pohon,Ratnawati  memakan buah ajaib itu habis. Tiba-tiba terjadilah suatu peristiwa ajaib. Sesosok bayangan berwarna putih muncul didepannya. Bayangan itu berambut panjang sampai meraba tanah. Wajahnya menakutkan. Bertaring panjang dan lidah yang selalu berliur. Deretan giginya tidak teratur, berwarna merah kehijau-hijauan. Kedua bibirnya yang tebal  berlindung dibawah kumisnya yang awut-awutan. Dan jenggotnya yang kaku berserabutan menutupi dada dan perutnya yang gembung.
Ratnawati tidak tahan beradu pandang, karena kedua mata bayangan itu memancarkan cahaya panas. Manumayasa segera melindungi dengan memasang anak panahnya.
Kedua makhluk itu kemudian saling pandang mengadu daya pengaruh. Beberapa waktu lamanya mereka berdiri  tegap siap bertempur. Tatkala  Manumayasa bergerak hendak menarik tali busurnya, bayangan itu menggeram dahsyat. Seketika itu juga, bumi bergetar dan hutan belantara berderakan. Tiba-tiba terdengarlah suara bergema dikejauhan :
-        Hai Satrutapa! Engkau hendak mengganggu majikanku?
Bayangan itu menoleh. Wajahnya berubah. Sesaat kemudian ia mengeluh panjang dan membanting  dirinya diatas tanah. Dia kenal suara yang menegornya. Dialah  Janggan Smara alias Semar, penjelmaan Dewa Ismaya.Terhadap Dewa Ismaya, ia bersedia takluk.
-          Wahai satria, sebenarnya siapakah engkau sampai  Kyahi  Semar  menyebutmu sebagai majikan.
-        Aku  Manumayasa, dan istriku bernama  Ratnawati. Aku penghuni pertapaan  Paremana.  Kenapa engkau memusuhiku,padahal  belum pernah aku mengenalmu?
Bayangan putih itu menghela napas panjang. Kemudian menyahut:
-          Baiklah, aku bersediamengalah. Sesungguhnya aku bangsa j i n. Satrutapa namaku. Hampir seribu tahun yang lalu, aku menunggu  pohon ini berbuah. Setelah berbuah engkau memetiknya dan istrimu memakannya  habis. Tahukah engkau, nama pohon itu? Pohon itu bernama  Sumawarna.  pohon Sumawarna hanya berbuah 900 tahun sekali. Itupun hanya s e b u a h. Barangsiapa memakan buah itu, anak keturunannya akan menjadi raja besar atau satria-satria berbudi  luhur. Karena itu, buah Sumawarna menjadi  perebutan setiap makhluk.  Tidak hanya manusia, raksasa dan bangsa halus saja, bahkan binatangpun  bersedia berkorban jiwa. Sebab anak keturunannya kelak  akan menjadi  manusia pilihan. Dengan sendirinya akan menjadi pembuka pintu sorga pada jaman kemtian. Maka hampir setiap hari aku bertempur melawan mereka yang  menghendaki buah Sumawarna. semuanya kubunuh mati. Pada hari ini aku sedang bertempur melawan tujuh ekor naga siluman. Aku berhasil menggebahnya pergi. Rupanya, sedang aku bertempur  mangadu untung, pohon Sumawarna berbuah. Dan kebetulan sekali  engkau lalu didekat  ketinggian ini . dan engkau kemudian memetiknya dan .....hm, alangkah mudah bagimu. Sebaliknya aku kehilangan waktu hampir seribu tahun dengan sia-sia.
Mendengar tutur-kata jin Satrutapa, hati  Manumayasa terharu. Andaikata mampu,ia bersedia mengembalikan buah Sumawarna itu. Tetapi jin Satrutapa kemudian  mengusulkan suatu perdamaian.
-           Baiklah, begini saja. –katanya memutuskan. –aku hendak bersatu dengan anakmu yang masih berada dalam kandungan. Kelak aku akan selalu melindungi dan membantu semua kesusahannya. Namakanlah dia  S a t r u k e m, demi mengingat namaku. Sedang mulai hari ini, nama istrimu hendaklah kau sebut  dengan nama: Dewi Sumawarna.
Satrutapa  kemudian bersatu dalam kandungan Ratnawati. Semar yang ikut mendengarkan percakapan itu berkata:
-        Satrukem kelak, akan menjadi  insan kamil. Ucapannya adalah sabda Hyang Wisesa.-
Enam bulan kemudian, Ratnawati  melahirkan seorang putra. Seperti  pesan jin Satrutapa, anak itu dinamakan Satrukem. Sayang. Ratnawati  tidak diperkenankan menyusui  anaknya. Ia meninggal  dalam kelelahan yang syahdu.
5.6    Cerita diatas adalah kisah simbolik. Manumayasa memetik buah Sumawarna dengan mudah, padahal jin Satrutapa sudah menunggu buah  itu semenjak hampir seribu tahun yang lalu. Artinya, tingkatan pengetahuan Manumayasa telah pandai membuka rahasia alam berkat ketekunannya belajar. Sedang keuletan jin Satrutapa  menunggu buah Sumawarna adalah lambang energi.
Perhatikan pula riwayat Manumayasa mendapatkan jodohnya. Dia tidak pernah mencari, tetapi jodoh itu datang sendiri. Artinya, selama belajar mendalami ilmu pengetahuan, tak pernah pikirannya bercabang. Dan setelah hidup sebagai suami, ia menaruhkan seluruh kepercayaannya kepada sang istri. Kesimpulannya : pergaulan antara suami istri harus saling mempercayai dan dapat dipercayai. Sebab masing-masing harus merupakan bagian dari hidupnya, sehingga saling mambantu,saling menolong dan saling menjaga martabat.
Semenjak kanak-kanak, Manumayasa selalu gelisah. Ia merasa kurang, sehingga berkeliling keseluruh negri untuk berguru kepada beberapa Brahmana yang berilmu-pengetahuan tinggi. Sifat keterbukaannya, membuktikan bahwa dia memiliki pemikiran modern. Ia memandang jauh kedepan dan bukan menoleh kebelakang.
Agaknya jaman merestui manusia yang memiliki pandangan hidup jauh kedepan. Secara simbolik, ia dipilih oleh Semar sebagai benih yang mempunyai hak hidup. Padahal Semar adalah simbol pengertian konsep illahi. Iapun terpilih diantara para satria di jamannya sebagai pahlawan dewa oleh Batara Guru. Maka pantaslah ia menjadi  leluhur para Pandawa yang berbudi luhur.



                                                                                 S A K U T R E M
                                                    TOKOH INSAN KAMIL DALAM CERITA WAYANG

6.1    Satrukem disebut pula dengan nama: Sakutrem. Bahkan Batara Guru erkenan memberikan nama Bambang Kalingga. Sewaktu membuka matanya untukn yang pertama kalinya, alangkah cakap wajahnya. Sayang Ratnawati tidak sempat menyaksikan. Dengan demikian Sakutrem hidup sebagai anak yatim.
Ratnawati adalah penjelmaan bidadari Kaniraras. Dapatkah bidadari menemui ajalnya? Peristiwa itu harus dijelaskan begini:
Yang membawa Kaniraras hidup dibumi adalah Janggan Smara atas perintah Hyang Ismaya. Maka semenjak itu,kodratnya dimanusiakan. Sebagai manusia, ia akan mengalami kematian. Setelah mati, Ratnawati kembali menjadi bidadari Kaniraras dan bertahta di kahyangan.
Kaniraras merupakan semangat keselarasan. Lambang harmonisasi antara akal dan rasa. Lmbang kecerdasan (IQ). Lambang cahaya penuntun bagi akal dan pikir. Sedangkan  bidadari adalah lambang  makhluk yang sudah tinggi peradabannya. Dengan demikian,bidadari  Kaniraras bisa diartikan dengan makhluk yang sudah tinggi peradabannya,yang kemudian bersedia menjadi  istri Manumayasa. tak mengherankan. Manumayasa berhasil memperoleh ilmu pengetahuan (memetik buah Sumawarna dengan mudah). Padahal bangsa jin saja (Satrutapa) tidak berhasil walaupun sudah berkorban waktu selama hampir seribu tahun.
Namun-walaupun Kaniraras lambang pembimbing peradaban tinggi pada jamannya- tetap saja terbatas kekuasaannya. Ia mati dan harus  kembali kekahyangan. Artinya, akal pikir betapa tinggipun, tetap terbatas. Hal itu disadari Manumayasa dengan cepat. Setelah istrinya meninggal, kembali ia hidup sebagai brahmana mendalami ilmu kesampurnaan. Sebab apapun alasannya,tiap makhluk akan kembali  keasalnya.
6.2    Kecuali mewarisi ilmu pengetahuan ayahnya, Sakutrem diasuh oleh Putut Supalawa dalam hal ilmu keprajuritan. Tak mengherankan,ia tunbuh menjadi seorang satria-brahmana yang tangguh dan cekatan. Apalagi didalam dirinya bersemayan Gandarwa Satrutapa yang sakti luar biasa. Maka kesanggupannya dalam hal olah keprajuritan,melebihi ayahnya.
Ujian datang, tatkala kahyangan diserang  seorang raja raksasa bernama Kalimantara. Raja raksasa ini memerintah negeri  Nusantara. Ia naik ke kahyangan dengan maksud melamar biadadari Irim-irim. Manakala Batara Guru menolak lamarannya, raja Kalimantara mengerahkan segenap balatentaranya. Dahsyatnya bukan main. Bagaikan air bah menjebol bendungan, Kahyangan diserangnya porak poranda.
Batara Naradha segera berangkat meninggalkan Kahyangan  mencari bala bantuan. Yang dipilihnya mula-mula ialah sepasang garuda bernama Harda Dadali dan Sengkali. Walaupun gagah perkasa, akhirnya keduanya gugur dalam medan laga. Kemudian berubah bentuk menjadi dua pucuk anak panah.
Batara Guru teringat akan keperkasaan Manumayasa. Maka Dewa Naradha menjemputnya ke kahyangan. Pertempuran terjadi dengan mengadu mantram sakti. Manakala raja Kalimantra merasa terdesak, ia memerintahkan sekalian panglimanya maju berbareng.
Menyaksikan hal tu Batara Guru emas. Segera ia minta pertimbangan Batara Naradha. Dewa yang cerdik dan pandai itu menyarankan agar memanggil Sakutrem.  Alsannya, karena di diri anak itu bersemayam Gandarwa Satrutapa. Selain itu, memiliki dan mewarisi ilmu sakti Putut Supalawa.
Sakutrem kemudian dikirim ke medan perang. Manumayasa menjadi gelisah. Pikirannya kacau, sehingga dengan tiba-tiba dirinya terhentak tinggi di udara dan jatuh di luar gelanggang. Ia kena pukulan maut raja Kalimantra. Tatkala melopat bangun,dilihatnya Sakutrem sudah bertempur seru melawan raja yang perkasa itu. Ia tercengang menyaksikan ketangguhan dan kecekatan Sakutrem. Anak yang belum akil baliq itu sanggup beradu tenaga dengan lawannya. Sekonyong-konyon Sakutrem tergoncang tubuhnya. Pada saat itu, ia melihat bayangan putih. Dialah Gandarwa Satrutapa yang terpental dari persemayamannya, karena tergoncang oleh pukulan raja Kalimantra. Dengan menggeram dahsyat, ia membalas. Dengan sekali pukul, Raja Kalimantara mati menjadi beberapa bagian.
Seluruh panglimanya maju dengan berbareng. Tetapi mereka semua mati berantakan. Suatu keajaiban terjadi. Baik Raja Kalimantara maupun sekalian panglimanya berubah bentuk menjadi senjata.
Kalimantara berubah menjadi senjata (pusaka) bernama Kalima sada. Perdana mentrinya yang bernama Kalanadah, menjadi sepucuk keris. Raksasa Sarahutama menjadi sepucuk anak panah bernama Sarutama. Panglima Tunggulnaga menjadi payung agung bernama cerah dan selanjutnya disebut dengan payung Tunggulnaga.
Semua senjata itu menjadi milik Sakutrem. Bahkan dua batang anak panah Harda Dadali dan sengkali (dua ekor garuda yang gugur di medan perang melawan laskar Raja Kalimantara), dihadiahkan Batara Guru pula krepadanya. Dan sekalian senjata itu kelak menjadi pusaka anak keturunannya (keris Kalanadah mula-mula menjadi senjata pemunah raja Pandu, sebelum diwarisi putra-putranya). Sedang Manumayasa yang ikut berjasa pula, memperoleh hadiah sebatang anak panah sakti bernama : Pasupati. Senjata pemunah inipun,dikemudian diwarisi Arjuna, anak keturunannya yang ke enam.
6.3    Melihat pagelaran wayang harus berbekal dengan hati dan bukan dengan nalar, kata orang. Walaupun deikian,nalar (pikiran) berhak pula untuk menikmatinya. Tetapi sang nalar kini perlu memperoleh penjelasan. Sebab tidak masuk akal, bahwasannya kodrat raksasa sekonyong-konyong bisa berubah bentuk menjadi senjata.
Seperti sudah kita setujui bersama, cerita wayang lebih dititk-beratkan kepada simbolisme daripada sejarah kenyataan manusiawi. Kalimasada disini berarti lambang ilmu pengetahuan. Kalimasada, lengkapnya Kalima Usada. Usada artinya obat. Dengan demikian adalah lambang ilmu kedokteran atau ilmu pengobatan.
Kalanadah dan Sarutama adalah lambang ilmu perbintangan, prtanian dan tata atur masyarakat. Sedangkan Tunggulnaga, melambangkan ilmu pengetahuan tentang tatanegara dan hukum. Harda Dadali dan Sengkali adalah ilmu pengembangan, penelitian dan keamanan (prajurit,polisi dan pamong praja).
Dengan demikian berbagai senjata itu, berarti Sakutrem telah mengusai berbagai ilmu pengetahuan. Maka pantaslah bila ia disebut sebagai sumber Witaradya (yang termulia atau sisilah raja). Karena ilmu pengetahuannya akan diwariskan turun temurun.
6.4    Semenjak itu Sakutrem sering naik ke kahyangan membantu kesukran para dewa. Riwayat hidupnya penuh dengan heroisme. Sepak erjang an kebiasaannya menjadi idaman tiap satria-brahmana.
Ia kawin dengan putri Pujangkara, bernama Nilawati. Mempunyai seorang anak laki-laki yang dinamakan S a k r i. Hari lahirnya ditandai dengan sebuah telaga berair jernih. Telaga ini dinamakan Ratawu. Sakutrem kemudian bermukim di atas pertapaan giri Sarangan.
Semenjak bermukim di atas pertapaan Giri Sarangan, Sakutrem hidup sebagai pendeta. Orang-orang memanggilnya dengan sebutan Maharsi  (Maharsi atau Maha Resi. Artinya Resi yang besar atau yang agung. Sebutan resi diberikan kepada seseorang yang suci lahir batinnya) Sakutrem. Sewaktu Sakri sudah akil baliq,ia menganjurkan agar Sakri cepat-cepat kawin. Maksudnya agar ilmu pengetahuannya yang banyak ragamnya,dapat diwariskan kepadanya. Sakri salah paham. Pemuda itu meninggalkan pertapaan tanpa pamit. Dan Sakutrem kena marah ayahnya. Ia diperintahkan mencari Sakri sampai dapat.
Ternyata Sakri bertemu jodohnya di tengah perjalanan. Dialah Dewi Sati putra Raja Patrawijaya yang memerintah negri Tabelasuket. Putri itu kabur pula dari negrinya karena diperlombakan demi menolong negrinya yang sedang dilanda berbagai macam musibah.
Raja Patrawijaya kemudian mencari putrinya, karena ilham dewata yang diterimanya sangat jelas. Negrinya akan kembali sejahtera seperti sediakala, manakala ia berguru kepada seorang pendeta yang bermukim dipertapaan Saptaharga. Ditengah hutan ia bertemu dengan putrinya yang sudah bergandengan tangan dengan seorang pemuda berwajah cakap. Nampaknya sangat akrab. Walaupun demikian,pemuda itu tidak melanggar kesusilaan.
Setelah merestui Sakri sebagai menantunya, ia memerintahkan agar pulang mendahului ke negeri. Dia sendiri hendak melanjutkan perjalanannya sampai bertatap muka dengan pendeta yang dimaksudkan dewa. Karena belum mengenal letak pertapaan Saptaharga, ia tersesat dan tiba di sebuah pertapaan bernama Atas Angin. Pendeta yang bermukim di pertapaan itu bernama Resi Dwapara.
6.5    Resi Dwapara seoraang pendeta  yang membuka perguruan. Murid-muridnya tak terhitung jumlahnya. Tetapi pada beberapa tahun terakhir, sebagian besar muridnya beralih pandang. Mereka berguru kepada Sakutrem atau Manumayasa. Merasa dirugikan, pernah ia mengerahkan sisa-sisa muridnya hendak menyerbu Saptaharga. Tetapi mereka tak dapat mendaki gunung Saptaharga seolah-olah tertolak suatu daya kekuatan yang tidak nampak. Terpaksa ia pulang kepertapaan Atas Angin dengan menyimpan rasa mendongkol dan dendam. Sekarang ia bertemu pandang dengan raja yang memerintah negri. Pikirnya kalau raja ini berkenan menjadi muridku, dia akan kuperintahkan menghancurkan pertapaan Saptaharga dan membunuh sekalian penghuninya.
Dengan pikiran itu, ia berdemonstrasi memperlihatkan kesaktiannya. Sebagai dalih, ia memerintahkan dua orang dayang memasak sesedap-sedapnya. Tatkala dihidangkan, Raja Patrawijaya menolak karena sedang berpuasa.
-          Berpuasa?-Resi Dwarapa menegas.
-        Benar. Aku berpuasa semenjak berangkat meninggalkan negeri sampai kelak, bila bsudah bertemu para pendeta yang bermukim di Saptaharga.
Resi Dwarapara tersinggung kehormatannya. Dengan serta merta, ia memenggal kedua dayangnya itu. Tentu saja peristiwa itu mengejutkan hati  Raja Partawijaya, ia memintakan ampun untuk kedua dayang tak berdosa itu. Karena perminaannya Resi  Dwarapara mengabulkan. Dengan kesaktiannya ia menghidupkan kedua dayang itu.
Raja Patrawijaya merasa takluk. Pikirnya kalau dia dapat menghidupkan kembali seseorang yang sudah terpenggal kepalanya,tentunya dapat pula memulihkan kesejahteraan negeri Tabelasuket yang sedang dirundung berbagai musibah alam.
Raja Patrawijaya kemudian bermaksud berguru kepadanya. Tetapi dengan cerdik Resi Dwarapa meminta imbalan jasa. Ia bersedia mewariskan seluruh ilmu kepandaiannya, manakala Raja Patrawijaya dapat mempersembahkan kepala Sakutrem dan Manumayasa. Raja Patrawijaya menyanggupi dan berangkatlah ia mendaki gunung Saptaharga.
6.6    Dikai gunung Saptaharga ia bertemu dengan Sakutrem. Dengan suara lantang, ia memaksa Sakutrem agar menunjukkan dimana letak ketujuh pertapaan yang berada di atas gunung Saptaharga.
-Apa maksud tuan?-Sakutrem minta keterangan dengan sopan.
-Aku hendak membunuh mati sekalian pendeta celaka itu.
-Siapakah yang tuan maksudkan?
-Mereka yang membuka perguruan.
-Apakah Sakutrem yang tuan maksudkan?
-Benar. Oh ,apakah dia bernama Sakutrem?
Sakutrem tersenyum. Mencoba lagi:
-Apakah Brahamana Manumaysa yang uan maksudkan?
-Benar. Apakah dia termasuk pula seorang pendeta yang bermukim disana?
Sakutrem mengangguk. Kemudian menegas:
-Apakah tuan kenal mereka?
-Belum. –sahut Raja Patrawijaya singkat.
-Kenapa hendak tuan bunuh?
-Itu urusanku. Kau hanya wajib menunjukkan tempat mereka berada. Ini perintah! Perintah rajamu.
-Siapa tuan?
-Aku bukan hambamu yang wajib menjawab pertanyaanmu. Aku Rajamu! Kau bersedia menunjukkan tempat beradanya atau tidak? Bentak Raja Patrawijaya seraya menghunus kerisnya.
Sakutrem tercengang.berkatalah seakan-akan kepada dirinya sendiri:
-HM......aku seperti sedang berhadapan dengan raksasa yang tak kenal sopan santun.
Pada detik itu pula, Raja Patrawijaya berubah bentuk menjadi raksasa yang berwajah mengerikan (ada yang mengisahkan berubah menjadi babi hutan). Raja Patrawijaya terperanjat melihat perubahan dirinya. Hati kecilnya berbisik, bahwa ia sedang behadap-hadapan dengan seorang setengah dewa. Kemudian menangislah ia dengan sedih dengan menyebut-nyebut nama menantunya: Sakri.
Mendengar Raja Patrawijaya menyebut nama anaknya, Sakutrem terhenyak. Dengan hati-hati dia bertanya:
-Tuan kenal Sakri?
-Dia menantuku. –sahut Raja Patrawijaya bdengan menangis. Kemudian meriwayatkan pertemuannya dengan Sakri dan Resi Dwarapara .
-Jika Dwapara dapat menghidupkan orang mati, tentunya pada saat ini melihat kesengsaraan tuan. Kenapa ia tak dapat menolong tuan dari kutuk Hyang Wisesa Tunggal? (baca Tuhan Yang Maha Esa). Sesungguhnya, apa yang diperlihatkan kepada tuan, hanyalah daya gai, yang tiada guna sama sekali demi mencapai nirwana di kelak kemudian hari. Semua sarwa sakti akhirnya harus ditinggalkan, sewaktu kita berangkat kealam baka. Alangkah jauh bedanya bila kita selalu berlatih dekat dengan Yang memiliki jagad raya ini. Dimana kita berada, DIA beserta kita. Bila kita benar-benar bertaubat, DIA akan mengampuni dengan cinta kasihnya.
Pada saat itu, Raja Patrawijaya memperoleh bentuknya kembali. Kemudian saling memeluk,karena mereka sesungguhnya adalah besan.
6.7    Kisah tersebut perlu kita perhatikan. Kita diperingatkan,bahwa di dalam khasanah hidup banyak terdapat bermacam-macam ilmu keTuhanan yang tentu saja mengaku yang paling benar. Ontologia, Metafisika, Theodocia, Deisme, Theisme, Fideisme, Mistika, Etika, Mitos, Magis dan masih banyak lagi untuk disebutkan satu demi satu. Masing-masing memiliki ciri-cirinya sendiri.
Ilmu kepandaian Resi Dwapara bersifat  m a g i s. Ciri-ciri penghayat magis sebagai berikut:
1.       Condong untuk menolak dan menagkis semua bahaya yang mengancam dengan menggunakan kekuatan-kekuatan alam yang ditundukkannya (daya gaib).
2.       Senang menggunakan mantra-mantra dan sarana-sarana spiritual.
3.       Mengarah kesifat sombong, congkak karena terlalu percaya kepada kebiasaannya.
4.       Biasanya ingin menguasai yang lain (dominan).
Pendek kata ingun menguasai proses-proses yang berlangsung di jagad raya ini seperti yang diperlihatkan Resi Dwapara.
Sebaliknya Sakutrem adalah manusia yang penuh pengabdian kepada Yang Maha Kuasa. Apa yang dilakukan adalah atas kehendakNYA. Keimananya ternyata berada di atas kekuatan daya gaib atas perlindunganNYA.
Pantaslah ia menjadi leluhur para satria Pandawa di kemudian hari.                                                                                        

                                                                                 P A L A S A R A
                        ANAK YATIM YANG MEMBANGUN NEGERI DENGAN KEKUATANNYA SENDIRI


7.1    Masih kita bicarakan jua keluarga Saptaharga. Sebab dari sini kita memperoleh kunci penglihatan yang luas, apa sebab keturunannya kelak menjadi raja besar dan satria agung sepanjang masa.
Palasara atau Parasara adalah anak Sakri, cucu Sakutrem dan cicit Manumayasa (Manumanasa). Palasara atau Parasara artinya senjata tajam. Para :engkau. Sara :panah. Nama itu tidak hanya mengingatkan riwayat kelahirannya, tapipun image kediriannya dalam percaturan hidup.
Karena dia dilahirkan, ibunya (Dewi Sati) meninggal dalam usia muda. Ayahnya (Sakri) yang kehilangan semangat hidup,mati diterkam gandarwa Citrasena. Ia jadi anak yatim piatu.
Kakeknya (Sakutrem) kehilangan ibunya pula, tatkala dilahirkan. Karena dapat merasakan sebagian penderitaan cucunya. Tak mengherankan, ia mengasuh Palasara bak dirinya sendiri. Dengan penuh perhatian dia mengasuh Parasara menjadi seorang brahmana yang beriman teguh dan dan mengjarkan berbagai ilmu pengetahuan yang dikuasainya. Maka pada dewasanya, Parasara menjelma seperti dirinya sendiri. Berparas cakap, berbudi luhur, berotak cerdas, dan pandai menggunakan beraneka macam senjata pemunah.
Palasara adalah type ideal Saptaharga. Manifestasi cahaya cinta kasih yang sering dibicarakan orang. Riwayatnya penuh dengan simbolisme.
7.2    Semenjak mengenal apa arti hidup yang sesungguhnya, ia tekun bertapa. Ia yakin,hidup manusia ini tentu ada yang merencanakan. Maka ia mohon cinta-kasih Sang Perencana, mudah-mudahan ada guna faedahnya hidup didunia ini. Syukurlah bila anugerah Illahi boleh diwarisi anak-cucunya.
Ketekunannya menggoncangkan tahta kahyangan. Batara Guru segera berunding drengan Batara Naradha. Ujar Batara Guru:
-Parasara memang anak-keturunan Wisnu dan Rahma. Sudah selayaknya ia mewarisi kemuliaannya. Tetapi belum waktunya, sehingga perlu kita cegah.
-Benar, tetapi bagaimana caranya? Parasara sangat kuat imannya ia takkan tergoncang hatinya melihat bidadari cantik. Takkan terhentak dari tempatnya, walaupun terbentak gelegar sejuta guntur. Pendek kata, dia tidak mudah diusik apalagi digagalkan.
-Rasa cinta-kasih bersemayam kuat di dalam hatinya. Kita harus mencari akal, agar tergugah rasa cinta-kasihnya sehingga meninggalkan tempat bertapanya.
-Kedua dewa itu kemudian merubah diri menjadi sepasang burung pipit dan bersarang di kepala Parasara yang berambut amat tebal. Setiap saat mereka mamadu kasih dan tiada lain yang dibicarakan selain masalah cinta yang hangat. Berkatalah yang betina (Batara Naradha):
-Alangkah  tolol orang yang memiliki kepala ini. Siang dan malam dia bertapa. Hidup menyendiri di tengah hutan belantara. Sampai kapan? Orang semacam  dia akan di tinggalkan jamannya. Betapa tidak? Kalau tiba-tiba harus mati, bukankah akan sia-sia hidupnya? Padahal gunung dan sungai saja mengenal arti cinta.
-Omong kosong! –bentak yang jantan (Batara Guru).-kau maksudkan sebuah gunung main cinta dengan sungai?......omong kosong!
Yang betina mempertahankan sangkalan jantannya. Lalu bercerita
-Tersebutlah seorang raja keturunan Kuru,Basuparicara, namanya. Istananya terletak di Cediwisaya. Ia pandai berbicara binatang dan faham bahasanya,karena mendapat anugerah dewa,Jimat sakti dan sebuah kereta ajaib “Aramajaya”.
Pada suatu hari, raja Basuparica berjalan-jlan menikmati keindahan alam sekitar taman istana. Ingin baginda menjenguk air Suktimati yang biasanya jernih bagaikancermin memantulkan cahaya matahari di senja hari. Arusnya lembut pula dan tangkas mengelakkan hadangan batu-batu yang mencongkakkan diri dari dasar sungai. Sentuhannya membersitkan suara gemericik seolah-olah musik surgaloka. Tetapi alangkah heran dan terkejut baginda Basuparica, tatkala menyaksikan perubahan sungai Suktimati itu. Arusnya tiada lagi. Airnya keruh seperti putri bersungut-sungut. Padahal baginda tidak pernah menerima laporan para juru taman. Tentunya ada sesuatu yang terjadi di luar pengamatan mereka.
Baginda Basuparica menyelidiki keadaan sungai itu sampai ke hulunya an tiba di kaki Gunung Kolagiri. Sekarang tahulah baginda,apa sebab arus sungai Suktimati berhenti dengan mandadak. Gunung Kolagiri sudah lama jatuh cinta kepada sungai Suktimati itu. Kemudian lahirlah dua bayi kembar, laki-laki dan perempuan. Yang laki-laki bernama Basuprada dan yang perempuan Girika.
Baginda Basuparica murka dan Gunung Kolagiri dipindahkan dengan mantra saktinya. Kemudian kedua bayi itu dibawa pulang ke istana. Basuprada tumbuh menjadi seorang ksatria yang cakap dan tangkas. Ia di angkat mernjadi panglima perang, sedang Girika yang cantik, mulus dan berparas molek, menjadi permaisurinya.
Suatu kali baginda Basuparica pergi berburu. Sewaktu melihat keindahan pegunungan dan air sungai yang bersuara gemericik,teringatlah baginda kepada permaisurinya. Agaknya prmaisuri Girinda sangat istimewa bagi baginda. Rasa cintanya bergelora. Karena tiada tahan lagi membendung gelora hati, ia memetik sehelai daun dan mengguratkan perasaannya. Kemudian ia memanggil burung elang. Syena namanya; dan di utus mempersembahkan sehelai daun itu kepada      permaisuri. Malang, di tengah jalan Syena di serang seekor burung elang lainya. Dauin cinta menjadi perebutan dan jatuh ke sungai Jamuna dan di telan seekor ikan betina. Dan hamillah ikan itu.
Seorang pencari ikan bernama Dasabala, secara kebetulan menangkap ikan betina itu. Tatkala hendak disembelih, ikan itu menangis sambil menceritakan apa yang terjadi pada dirinya.
Ikan itu kemudian melahirkan dua orang putra. Yang pertama seorang laki-laki yang gagah perkasa dan dinamakan: Durgandana. Kelak bernama Matsyapati(matswapati) raja negeri Wirata. Sedang yang kedua seorang putri cantik jelita bernama Durgandini atau Gandawati. Dan setelah melahirkan kedua putranya, ikan betina itu berubah wujudnya menjadi bidadari yang sedang menjalankan kutuk pastu.
Durgandana dan Durgandini kemudian dibawa  Dasabala menghadap Sri Baginda. Baginda Basuparica yang bijaksana menerima mereka sebagai putanya. Tetapi karena keringat Durgandini berbau anyir,ia dikembalikan kepada Dasabala sebagai anak-angkatnya. Durgandini kini membantu pekerjaan ayah angkatnya, menjadi tukang menyeberangkan orang yang  hendak menyeberangi sungai Jamuna.
Sampai disini pipit betina berhenti  bercerita. Yang jantan tertawa terbahak-bahak. Parasara yang diam-diam ikut mendengarkan, tersenyum geli pula. Dengan sesungguhnya, ia miulai tertarik. Tetapi cerita burung masakan benar terjadi? Tepat pada saat itu, ia mendengar yang jantan berkata mencemooh:
-Tahukah engkau, apa kata orang bila mendengar sebuah cerita yang tidak masuk akal? Itulah cerita burung!
-Di bagian manakah yang tidak masuk akal?
-Masakan di dunia ini pernah terjadi sebuah gunung jatuh cinta pada sebuah sungai dan kemudian memperkosanya? Apalagi, sungai itu engkau katakan sampai mengandung dan melahirkan dua orang anak.berkabarlah yang benar!  Berceritalah yang masuk akal! Janganlah meniru seorang pujangga yang ingin yang ingin menyatakan sesuatu dengan bersembunyi dibalik ceritanya..............
Yang betina terdiam dan lama ia berdiam diri. Parasara yang ikut mendengarkan makin tertambat. Kalau saja kedua matanya dapat pindah di atas ubun-ubunnya, ingin ia melihat betapa reaksi pipit betina itu dibantah yang jantan. Dan karena pipit betina tidak terdengar lagi suaranya, tak terasa ia menyenak napas menyabarkan diri.
-E-hem ! tiba-tiba yang jantan berdeham.-Kenapa engkau jadi perasa?
-Kenapa tidak? Karena engkau tidak menghargai ceritaku.
-O, bukan begitu maksudku sayang.- yang jantan membujuk dengan gugup.-Bukankah engkau hendak menceritakan kisah asmara Raja Basuparica, sayang? Di jaman mudanya dahulu, Raja Basuparica pernah menjalin kasih asmara di sebuah perburuan yang hanya disaksikan oleh sungai dan gunung. Bahkan tidak begitu. Ia memperkosa gadis itu, sehingga mengandung dan melahirkan anaknya. Sungguh malang, dikemudian hari ia jatuh cinta pula pada seorang gadis yang bertubuh mulus, berwajah molek. Gadis itu Girika, namanya. Ia tak tahu, bahwa Girika adalah anaknya sendiri. Apabila hal itu sudah menjadi pembicaraan umum, segera ia menitipkannya kepada Dusabala. Dan Girika  meninggal, setelah melahirkan Durgandana dan Durgandini. Bukankah begitu? Durgandini dikabarkan berkeringat anyir. Tentu saja. Suatu aib di mana saja, akan berbau tak sedap.
-Mmbuang?  Kenapa aku harus membuangmu?  Tidak,sayang. Ah,mengapa engkau     berpikir yang buka-bukan?
Kedua burung itu kemudian berdiam diri. Mereka tertidur dengan mimpi indah. Dan beberapa hari kemudian, yang betina bertelur. Yang jantan menjaganya dengan cermat sampai telur itu menetas.
Sekarang suatu perubahan terjadi. Setelah telur itu menetas, kedua burung itu tidak menghiraukan anaknya. Mereka asyik bercumbuan di atas  pohon. Padahal si pipit kecil perlu kehadirannya untuk makan minumnya. Apabila cicit si pipit kecil agaknya merisaukan  pendengarannyamereka terbang menjauhi.kali ini hinggap di puncak pohon yang berdiri di seberang petak hutan. Rupanya mereka memutuskan hendak bersarang di atas pohon itu.
Menyaksikan pekerti mereka, Parasara jadi iba hati terhadap nasib si pipit kecil. Nasib si pipit kecil tidak berbeda jauh dari dirinya. Ia akan jadi yatim piatu pula. Karena itu, dengan hati-hati ia membawa si pipit kecil menghampiri induknya. Tetapi induknya tidak menaruh perhatian sedikitpun. Ia bahkan lagi asyik sendiri dengan yang jantan. Kemudian mengajak yang jantan terbang menjauh lagi., agaknya dia merasa terganggu.
Dengan tak dikehendaki sendiri, hati Parasara gemas. Sekarang dia mengejar burung itu dengan langkah-langkah panjang. Tetapi lagi-lagi, mereka terbang menjauhi. Tak terasa sampailah ia di tepi sungai Jamuna. Dan kedua burung itu berkicauan di seberangnya.
7.3    Parasara menghela nafas. Tak dapat ia menyeberangi sungai itu. Tiba-tiba ia melihat sebuah perahu. Pendayungnya seorang perempuan cantik.
-Hai perempuan cantik! Dapatkah engkau menyeberangkan diriku?- teriak Parasara.
Perempuan yang cantik itu sesungguhnya Durgandini. Mendengar seru Parasara, segera ia menghampiri dengan perahunya. Dan dengan senang hati ia membawa Parasara naik ke atas perahunya.
Waktu itu matahari sangat teriknya. Durgandini mengucurkan keringat. Bau keringatnya yang tidak sedap menusuk pernapasan Parasara.  Pikir Parasara, kenapa perempuan secantik ini berkeringat demikian anyirnya.
Oleh rasa iba, diusaplah keringat Durgandini. Sekonyong-konyong perahu tergoncang oleh ombak dan pecah menjadi dua bagian. Mereka tercebur di dalam arus sungai yang berputaran dahsyat dan terlempar di sebuah pulau.
Basah kuyup, Durgandini mencoba bangun. Namun tenaganya tiada, sehingga perlu ditolong Parasara. Kedua muda-mudi itu saling pandang. Pakaian yang dikenakan Durgandini tidak lengkap lagi. Tetapi tatkala sinar matahari terasa menembus seluruh tubuhnya, keringatnya sama sekali tidak menebarkan bau busuk. Bahkan membersitkan bau harum sekali.
-Hai,keringatku ! –ia berteriak gembira.
Konon bau harum keringat Durgandini kini dapat tercium sejauh seratus yojana. Dan semenjak itu, ia bernama Satayojanagandi. Artinya putri yang mempunyai bau harum sejauh 100 yojana. (sata=100)
Parasara dan Durgandini hidup sebagai suami-isteri di pulau itu dan melahirkan seorang anak laki-laki yang berkulit hitam. Anak itu dinamakan W i y a s a.
Pada saat yang hampir bersamaan, datanglah lima orang pemuda dan seorang gadis yang mengaku pula sebagai putra-putri Durgandini. Gadis itu mengaku bernama Rekatawati. Sedang lainnya bernama: Setatama, Gandarwana, Rajamana,Kencaka dan Rupakenca. Betapa mungkin?
Ternyata kulit penyakit Durgandini yang terbawa arus, dimakan seekor ketam dan hamil. Kemudian melahirkan Rekatawati. Ulat (bakteri) penyakit menjadi manusia bernama Setatama. Bau penyakit menjadi seorang satria bernama Gandawana. Penyebab penyakit dimakan seekor ikan dan melahirkan seorang pemuda yang gagah perkasa bernama Rajamala. Kemudian perahu menjadi seorang pemuda tampan bernama Kencaka. Sedang buritan menjadi seorang satria bernama Rupakenca.
7.4    menurut kitab Asiparwa. Parasara kemudian melanjutkan perjalanannya. Bagaimana akhir hayatnya. Tiada jelas. Sedangkan Durgandini yang kini bernama Satayojanagandi memperoleh kegadisannya kembali berkat kesaktian suaminya. Ia kembali ke negeri dan di terima ayahanda baginda dengan gembira. Lainlah halnya dengan yang terbaca di dalam kitab Pustaka Raja Purwa. Dengan kesaktiannya Parasara merubah pulau permukimannya dan hutan di sekitarnya menjadi negara yang besar. Negara itu dinamakan Gajahoya.(istana gajah) atau Astinapura. Setelah Wiyasa lahir,ia melanjutkan perjalanan dengan membawa anaknya yang belum pandai menyusu. Konon diceritakan, anak itu hidup dengan menghirup sari-sari alam semesta. Karena itu, Wiyasa kelak hidup sebagai insan yang memiliki keistimewaan. Ia tidak hanya sakti, tetapi ahli tatanegara pula.
7.5    Yang menarik untuk kita renungkan adalah makna cerita itu. Karena kedua kakeknya (Mannumayasa dan Sakutrem) adalh mrahmana yang berpandangan jauh, maka Parasara dicetak menjadi manusia modern pada jamannya. Ia tekun bertapa sampai rambutnya gondrong. Gondrong disini bukan mewartakan semangat keliaran. Akan tetapi, karena tekunnya belajar. Dan masa belajar itu sendiri, artinya serba mengurangi kesenangan. Jadi bertapa di sini, merupakan prosesd penyempurnaan manusia demi memenuhi kebutuhan jasmaniah dan rohaniah.
Memang :-manusia hidup harus makan, minum dan tidur secukup-cukupnya agar sehat. Akan tetapi santapan rohani sangat perlu pula untuk memberi keseimbangan, agar memiliki gairah hidup, sehingga jiwa tidak mudah gersang.
Dalam mengejar ilmu kepandaian, kerapkali orang lupa diri. Harus diingat, bahwa ilmu itu kejam. Artinya manusia bisa dimakan ilmu yang tiada habis-habisnya. Karena itu Batara Guru (kesadaran hakiki) dan Batara Naradha berkenan mencegahnya dengan merubah dirinya menjadi sepasang burung pipit.
Burung pipit sejodoh. Artinya keseimbangan akal dan rasa. Dan hidup bersuami isteri adalah kehendak hukum alam sendiri demi melestarikan kehidupan. Lebih sempurna lagi, bila kelak dikaruniai anak. Sebab anak adalah angkatan penerus. Itulah sebabnya betapa iba dan terharu Parasara (secara naluriah) tatkala sipipit kecil di terlantarkan induk dan ayahnya. Ia,yang selamanya tidak pernah marah, tiba-tiba menjadi gemas menyaksikan betapa si induk dan si ayah tidak bertanggung jawab terhadap anaknya.
Tetapi Parasara sendiri, sebenarnya di bimbing Batra Guru dan Batatra naradha untuk melakukan darma kedewasaannya. Yalah bertrmu dengan Durgandini dan kawin. Ini merupakan gejala yang terpenting dari segala gejala hidup yang penting.
Jadi hubungan dengan sesama hidup, merupakan gejala  yang terpenting dari segala gejala hidup yang penting. Karena itu hormatilah sesamamu! –pesan orang-orang yang bijaksana. Sebab bila anda kehilangan sesamanya, anda akan kehilangan semuanya. Baik lahir maupun batin.


                                                                          W I Y A S A
                     ORANG BIASA YANG NAIK TAHTA DENGAN SEKONYONG-KONYONG

8.1    Parasara memasuki hutan belantara dengan membawa putranya. Dengan diam-diam ia meninggalkan durgandini, istrinya. Hati-hati ia menyalimuti si kecil, agar tahan menghadapi dingin hawa. Ia hendak kembali kepertapaannya. Pertapaan Srungga yang berada di atas Gunung saptaharga.
Putra yang dibawa naik ke pertapaan srungga, sudah kita kenal. Dialah sang wiyasa, manusia yang hendak dibentuknya menjadi manusia lain. Sebab anak itu, tidk akan pernah menetek ibunya. Ia hidup atas karunia alam. Menghirup sari-sari bumi dan udara. Bagaimana cara melatih bayi hingga pandai menghirup sari-sari alam semesta, hanya Parasara yang tahu...(untuk kalangan yoga bukan merupakan kenyataan yang sensasionil. Guru Putri Giribala, misalnya, hidup menghirup sari-sari alam selama 53 tahun).
8.2    Nama Wiyasa kita kenal sebagai  pengarang cerita pahlawan (epos) mahabaratha, yang teridri dari 18 parva (bagian)  berisikan 100 ribu sloka. Pujangga Panini menyebutnya: Bhagawan Wiyasa. Oleh anggapan tradisional  dikatakan pula sebagai penyusun kitab-kitab suci Wedha. Vedanta dan Purana.
Tetapi menurut kitab-kitab suci Purana, terdapat 28 orang Vyasa. Vyasa di artikan ;Penyusun atau pengatur. Jadi kitab-kitab itu disusun atau di atur oleh 28 orang. Ataukah arti Vyasa itu terjadi kemudian demi menghormati Bhagawan vyasa? Dlam hal mencari kejernihannya, terdapat belasan sarjana barat maupun sarjana timur yang berbeda pendapat.
Walaupun demikian, mereka dan ditambah dengan anggapan tradisionil dan pendapat ,odern akhirnya bersepakat untuk menyatakan, bahwa pengarang atau penyusun wiracarita (epos) Mahabaratha adalah Vyasa. Namanya yang lengkap : Krisna Dwipayana Vyasa. Adapun naskah Mahabaratha yang orisinil hanya terdiri dari 7000 atau 8000 sloka. Bukan 100.000 sloka.
8.3    Khrisna Dwipayana Vyasa, demikianlah nama lengkapnya menurut persetujuan para sajana, anggapan tradisionil dan pendapat modern. Artinya :Manusia lahir dipulau. Nama itu dikenal khasanah cerita wayang purwa. Tentunya w i y a s a, kakek para satria Pandawa.
Masyarakat wayang tidak ragu-ragu lagi dan bertambah yakin, tatkala mereka mengabarkan bahwa Vyasa adalah anak  Resi Parasara dengan Setyawati,gadis nelayan cantik atas perkawinan yang tidak sah. Vyasa kemudian di beasarkan dalam lingkungan kehidupan keagamaan dan kesusastraan oleh ayahnya dan bukan ibunya. Sebab nelayan tersebut kembali menjadi gadis ata restu sang Resi.
Wiyasa kita kenal dengan nama Abiyasa, Khresnadwipayana. Dewayana, Sutiksnaprawa, Rancakaprawa, Wiyana. Masing-masing nama berdiri sebagai lambang. Khresndwipayana, bukan di artikan sebagai manusia lahir di pulau. Tetapi lebih mendalam lagi. Khresnadwipayana: hitam mulus. I n t i   c a h a y a yang menerangi jagad. Dewayana: titisnya dewa (divine, goddelijk) atau pengejawantahan (manifestasi) dewa, karena itu faham akan rahasia dunia. Sutiksnaprawa : berkuasa menyinari cahaya cerah kepada umat dunia. Rancakaprawa : pandai menolong orang yang sedang di rundung malang. Wiyasa :orang yang menjunjung tinggi tata susila dan tata tertib. Abiyasa, adalah manusia seutuhnya. Manusia yang terdiri dari darah dan daging. Artinya orang yang tak pernah merasa lebih dan melebihi sesamanya.
Jika demikian, manusia apakah Wiyasa sebenarnya? Jawabannya : manusia biasa. Manusia seperti kita juga. Manusia yang memiliki akal budi dan rasa. Tetapi yang memiliki kesadaran hakiki tinggi.
8.4    Seperti dikabarkan di atas, Wiyasa di didik ayahnya dalam hal kehidupan keagamaan dan kesusastraan. Kesusastraan di sini bukan hanya berarti tulis menulis atau pandai membaca saja. Tetapi termasuk ilmu tata negara, ilmu hukum, ilmu sosial, ilmu ekonomi, ilmu keTuhanan (falsafah hidup), ilmu pertanian, ilmu...ilmu....dan ilmu. Pendek kata seluruh ilmu warisan leluhur sejak jaman Manumayasa dan Sakutrem. Tak mengherankan, Wiyasa tumbuh menjadi orang yang serba pandai. Itulah sebabnya, dengan tak ragu-ragu para penasehat Astina, melantiknya (menunjuk) sebagai  pengganti raja negeri Astina. Dengan demikian, seorang yang berasal dari gunung (orang biasa) yang naik tahta dengan sekonyong-konyong. Dalam hal ini ibunyalah yang mempunyai saham besar.
Ibunya? Benar, i b u n y a. Dialah Durgandini atau Satayojanagandi.
8.5    Karena ditinggalkan Parasara, Durgandini kembali ke negeri. Sekarang ayahanda baginda berkenan menerimanya sebagai putrinya yang penuh, karena keringatnya tidak anyir lagi. Cepat sekali ia termasyur keseluruh negeri sebagai putri Satayojanagandi. Putri yang harum semerbaknya tercium sampai seratus yojana.
Beberapa raja datang meminangnya,tetapi Durgandini selalu menolaknya. Hal itu membuat ayahanda baginda heran. Baginda tidak mengetahui latar belakangnya. Durgandini sendiri, merahasiakan pertemuan dengan Parasara. Hanya kakaknya seorang (Durgandana) yang di bisiki.
-Kau sudah cukup dewasa. Sudah menjadi remaja putri ! sudah sepantasnya engkau memilih jodohmu. Kenapa engkau bersikap dingin ? –ayahanda baginda minta keterangan.
Durgandini tetap menutup mulutnya, sampai pada suatu hari ia berkenan menerima pinangan seorang raja yang menggendong putranya. Dialah raja Santanu. Dan putra yang di gendongnya itu bernama Bhisma. Ibu anak itu seorang bidadari. Ganggadewi namanya. Setelah melahirkan anak, kembali ke kahyangan. Dengan demikian, si anak perlu seorang ibu yang menyusui.
Durgandini terkenang kepada anaknya sendiri. Umurnyapun tak terpaut jauh dengan Bhisma. Itulah sebabnya, dengan gembira ia mendekap dan memeluk anak itu. Setelah diciuminya berulangkali , kemudian disusuinya. Sudah barang tentu ayahanda baginda bertamah-tambah herannya.
Ringkasnya Durgandini kemudian menjadi permaisuri raja Sentanu yg memerintah negeri Astina. Dari hasil perkawinannya ia memperoleh dua orang putra. Citranggada (Citragada)dan Wicitrawirya (Citrawirya).
Setelah raja Sentanu wafat, Citraganda naik tahta. Bhisma kemudian mencarikan calon permaisuri dari negeri Kasi. Sekaligus dia membawa dua orang putri. Masing-masing bernama Ambika dan Ambalika. Ambika menjadi permaisuri Citranggada, Ambalika menjadi istri (kelak permaisuri pula) Wicitrawirya.
Malang , Raja Citranggada tidak berumur panjang. Ia mati di terkan Gandarwa Citrasena.-Wicitrawirya- naik tahta. Diapun mati muda karena terserang penyakit.
Durgandini kemudian memanggil Bhisma agar naik tahta. Sebab kerajaan tidak boleh dibiarkan kosong tanpa berpemerintahan walaupun hanya sehari. Tetapi Bhisma menolak. Dia menunjuk Wiyasa sebagai penggantinya.
Wiyasa waktu itu masih tekun belajar diatas pertapaannya. Ia heran,tatkala menerima panggilan ibunya. Segera ia berangkat dengan mengenakan pakaian seadanya. Tiba di istana Astina, ia ditunjuk sebagai pengganti raja. Mula-mula ia menolak, karena sama sekali tidak pernah berangan-angan menjadi seorang raja. Bahkan mimpipun, tidak. Namun oleh perintah ibunya, ia wajib tunduk. Ia menerima tugas mulia itu. Sebagai pelengkap ia harus mengawini dewi Ambika dan Ambalika. Kemudian mengambil seorang istri lagi yang sepadan dengan derajatnya. Dialah Datri, seorang dayang yang berwatak lembut, berbudi luhur dan berhati suci.
Dengan dewi Ambika, ia memperoleh seorang putra bernama Drestrarastra. Sayang, anak ini tuna-netra. Dengan dewi Ambalika, lahir seorang putra pula yang cakap. Namun berwajah pucat. Putra itu diberi nama : Pandu. Sedangkan dari dayang Datri, lahirlah seorang putra bernama Yamawidura. Cakap, cerdas dan berbudi luhur. Tetapi kakinya pincang (panjang sebelah).
Wiyasa membuat perubahan-perubahan besar dalam tata pemerintahan. Ia termashur dengan nama: Raja Kresna Dwipayana. Ia dicintai dan dihormati rakyatnya, karena mengenal masalahnya.meskipun masa pemerintahannya tidak berlangsung lama, namun ia dikenal sebagai raja yang arif bijaksana. Seorang raja Brahmana yang lebih mangesankan sebagai pengayom (pelindung rakyat) daripada tokoh yang memerintah.
8.6    Wiyasa tidak pernah ditargetkan oleh ayahnya sebagai raja. Kalau saja ia erkenan menerima tahta kerajaan, semata-mata wajib ebrbakti kepada ibunya. Padahal semenjak bayi sampai dewasa, tidak pernah tersentuh tangan ibunya. Anak yang tidak pernah memperoleh cinta-kasih ibunya, ternyata memiliki kesadaran yang tinggi. Inilah yang harus kita resapkan di dalam kalbu sebagai perbendaharaan hati yang paling mulia dan paling luhur. Ibu, ibu dan sekali ibu.! Kedudukan seorang ibu wajib kita junjung tinggi. Sebab dari rahim bunda kita bermula.
8.7    Wiyasa Seorang sarjana dan sujana besar. Sebagai seorang pengarang (penyusun) cerita epos terbesar di seluruh dunia, tidak pernah ia memperlihatkan pengetahuannya yang luas atau main doktrinasi. Padahal dia ikut terlibat di dalamnya. Tak pernah pula ia mengadili tokoh-tokohnya. Padahal ia tahu akan hukum baik dan buruk, salah dan benar, tulus dan jahat. Barangkali, karena tokoh-tokoh yang berperan dalam epos Mahabarata adlah anak-cucunya sendiri. Manakala ia berkenan menulis sepak terjang mereka dengan jujur, karena bermaksud memohon maaf kepada angkatan penerus yang berkewajiban melestarikan kehidupan. Jadi bukan bermaksud untuk mengkultuskannya. Manakala sekarang kita melestarikannya, adalah semata-mata berkat  k e j u j u r a n  dan  k e t u l u s a n  penulisnya.
Karena kelestarian bersifat horizontal dan vertikal, maka kejujuran itupun harus demikian pula. Dengan kesaksian-NYA suatu karya akan jadi abadi atau bersifat abadi.
Inipun berkat suatu kesadaran tinggi pula. Sebab manusia itu bereksistensi. Yaitu, dihadapkan pada dirinya sendiri dan dunianya. Dalam tata-kerja, manusia tidak sekedar merubah dan mengembangkan benda-benda obyektif menjadi benda-benda yang berguna bagi manusia saja, melainkan juga mengmbangkan dirinya sendiri. Oleh karena itu, hasil karya dan kerja seseorang tidak lain adalah sarana untuk menyatakan dan menampakkan dirinya dan sekaligus menunjukkan hubungan manusia dengan sesama.
Presatasi atau kesadaran beginilah yang telah dicapai Wiyasa.
8.8    Semenjak kanak-kanak, Wiyasa tekun belajar tanpa target sesuatu. Artinya, bukan angan-angan muluk yang menyebabkan. Dia hanya disadarkan oleh ayahnya. Hidup ini untuk  m e l i h a t  dunia. Dan untuk dapat melihat dunia,sesorang harus berbekal ilmu. Karena itu,wajib seseorang belajar ilmu. Ilmu apa saja. Karena ilmu itu merupakan sarana proses pematangan kedewasaan, baik lahir maupun batin. Inilah yang membedakan kodrat manusia dan binatang. Manusia berakal budi. Binatang, tidak.
8.9    Setelah naik tahta, Wiyasa sadar akan arti kedudukan generasi penerus. Maka wajiblah ia mendidik agar menjadi proses pematangan secara berkesinambungan, baik lahir maupun batiniah. Karena Destrarastra tuna-netra, perhatiannya tertuju pada putra kedua :Pandu.
Seperti ayahnya, ia menangani pendidikan dan pengajaran Pandu secara langsung. Ia bisa hidup sebagai seorang rakyat biasa. Meskipun tetap menjaga tata-tertib dan tata-atur yang sudah disetujui bersama, namun ia tidak merasa kaku terhadap ketentuan-ketentuan yan gberlaku sebagai raja. Dengan teratur ia menyisihkan waktunya. Kalau perlu ia terjun langsung untuk membimbing putranya demi keberhasilannya. Hal ini pernah dilakukan, tatkala Pandu menghadapi kesulitan melawan kesaktian Narasoma.
Narasoma mempunyai ilmu sakti bernama: Aji Candabirawa. Bila dimantram, aji itu mengeluarkan ribuan raksasa kecil yang sangat ganas dan kebal dari sekalian senjata. Jika musuh menghantamnya, jumlah raksasa kecil itu menjadi berlipat ganda. Kalu perlu sanggup memenuhi persad bumi.
Berlawanan dengan musuh yang mempuya mantra kesaktian demikian, Pandu terdesak mendur. Dan Narasoma kemudian mengejeknya. Katanya dengan mencibirkan bibirnya :
-Ah! Jadi beginilah kehebatan Pandu? Seringkali kudengar kabar, Pandu calon raja Astina. Kesaktiannya tak ubah dewa. Dia pernah memunuh raja raksasa Tremboko yang disegani dewa. Sekarang dimanakah kesaktianmu itu ? kata orang, engkau putra Wiyasa yang serba pandai. Kabarnya dewa sampai berguru kepadanya. Sekarang, dimanakah ayahmu berada ? mengadulah kepadanya! Narasoma tidak akan undur selangkahpun, meskipun hendak kau rebut beramai-ramai.
Pandu menundukkan kepalanya. Tatkala hendak menyatakan kalah, Narasoma mengejeknya lagi , katanya dengan suara tinggi :
-Sebenarnya engkau seorang  laki-laki atau banci? Atau seorang perempuan, malah? Apakah karena pertaruhannya belum sepadan ? baiklah, begini, akupun mempunyai seorang adik perempuan,yang tak kalah cantik daripada Kunti. Namanya Madrim. Sekarang kupertaruhkan pula. Jika aku kau kalahkan, ambillah ia sebagai istrimu. Kalau tak sudi, jadikanlah budakmu. Kau takut memberinya makan minum? Biarlah aku yang mengirimkan makan-minumnya.
Bukan main mendongkol hati Pandu. Tetapi ia harus mengakui kenyataan yang tak bisa diungkiri. Dia mersa kalah. Tiada ia memiliki pegangan kuat untuk melanjutkan adu sakti itu. Semua senjatanya tidak mempan menghadapi raksasa Candabirawa. Bahkan keris kalanadah, pusaka warisan Sakutrem, tiada berguna. Tatkala hendak melarikan diri, sekonyong-konyong ia melihat wajah seseorang yang sangat dikenalinya. Dialah Wiyasa, ayahnya yang sangat dihormati.
-Ayah ! serunya girang.-Siapakah yang mengiringkan paduka sampai menyusul hamba kemari? Dengan apakah ayahanda.....eh...maksud hamba...dengan berkendaraan apakah paduka datang kemari?
-Sudahlah Pandu. Aku datang dan akupun datang. Lawanmu memiliki aji Candabirawa. Meskipun demikian, engkau tidak boleh melarikan diri. Bukankah engkau anak-keturunan Saptaharga?
-Benar. Tetapi dengan senjata apakah hamba hendak mengalahkannya?
-Yakin dan berimanlah kepada yang menciptakan dunia ini. Jawab Wiyasa dengan tenang. –ketahuilah, anakku. Candabirawa terjadi dari nafsu. Karena itu,makin engkau bernafsu makin menjadilah ia. Narasoma tahu akan hal itu. Maka ia sengaja membakar hatimu. Nafsu tidak berlaku bagi orang yang tidur lelap. Bila engkau.....
Sampai disini Pandu tidak memerlukan penjelasan lagi. Segera ia kembali menghadapi Candabirawa. Kali ini dia berdiri tegak dengan bersemadi. Semua nafsu yang bergolak dalam dirinya, diendapkannya. Karena sudah biasa mengurangi makan-minum, berpuasa demi mengendalikan hawa nafsu, maka ia tidak menapatkan kesukaran lagi. Menghadapi manusia demikian, habislah kekuatan Candabirawa. Ia lenyap dri penglihatan. Dan demikian Pandu dengan mudah dapat meringkus Narasoma.

Bersambung.....

Sumber : Wayang, Apa dan Siapa Tokohnya SKM Buana Minggu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar